ADRO Net Buy Rp500M|Asing Borong saat DSI Monopoli Ekspor?

· IHSG

Anomali yang Tidak Bisa Diabaikan

Investor asing mencatat net sell Rp61,36 triliun di Bursa Efek Indonesia sepanjang 2026. IHSG terkoreksi 35,3% dari awal tahun. Hampir setiap saham besar menjadi target jual. Tapi satu nama justru bergerak berlawanan arah. Saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk, atau ADRO, dibeli bersih oleh asing sebesar Rp187,8 miliar hanya dalam periode 2 sampai 5 Juni 2026. Dalam sebulan terakhir, akumulasi net buy asing di ADRO mendekati Rp500 miliar. Ini bukan angka kecil di tengah kondisi pasar yang sedang dalam tekanan besar. Yang membuat anomali ini semakin menarik adalah konteks waktunya. Pembelian ini terjadi persis setelah PP Nomor 24 Tahun 2026 berlaku efektif pada 1 Juni 2026. Regulasi tersebut menjadikan PT Danantara Sumberdaya Indonesia, atau DSI, sebagai satu-satunya perantara ekspor batu bara nasional mulai 1 Januari 2027. Secara logika sederhana, perusahaan batu bara seperti ADRO seharusnya menghadapi tekanan baru dari kebijakan ini. Tapi asing justru menambah posisi. Pertanyaannya bukan apakah ini benar atau salah. Pertanyaannya adalah: asumsi apa yang sedang mereka pegang? Data Stockbit Sekuritas menunjukkan bahwa meskipun dibeli bersih secara kumulatif, harga ADRO tetap terkoreksi 2,6% dalam sepekan ke level Rp2.240. Artinya, pembelian asing belum cukup kuat untuk melawan tekanan jual dari peserta pasar lainnya. Namun posisi YTD ADRO masih naik 23,7% — jauh berbeda dari IHSG yang minus 35,3%. Divergensi ini adalah sinyal bahwa ada kelompok peserta pasar yang membaca ADRO dengan kerangka yang berbeda dari konsensus umum. Memahami kerangka itu adalah kunci dari analisis ini.

PP No.24/2026: Ancaman Nyata atau Sudah Dinetralisir?

Untuk memahami keputusan beli asing, harus dipahami dulu apa sebenarnya yang diubah oleh PP Nomor 24 Tahun 2026. Regulasi ini menetapkan bahwa batu bara, kelapa sawit, dan ferro alloy hanya dapat diekspor melalui BUMN Ekspor yang ditunjuk pemerintah. DSI diberikan kewenangan untuk menentukan harga jual dan menetapkan margin dalam batas kewajaran. Secara teori, ini adalah perubahan struktural besar bagi perusahaan batu bara seperti ADRO. Selama ini, ADRO memiliki kontrol penuh atas negosiasi harga ekspor langsung dengan pembeli. Dengan DSI sebagai perantara tunggal mulai 2027, kontrol itu berpindah ke entitas pemerintah. Risiko nyata pertama adalah margin compression — DSI menentukan margin, bukan ADRO. Risiko nyata kedua adalah ketidakpastian arus kas pada masa transisi 1 Juni hingga 31 Desember 2026. Namun ada satu klausul yang sering luput dari perhatian. PP No.24/2026 Pasal 3 menyatakan bahwa kontrak penjualan yang telah ditandatangani sebelum 1 Juni 2026 dan masih berlaku akan dievaluasi oleh BUMN Ekspor. COO Danantara Dony Oskaria secara eksplisit menyatakan bahwa seluruh kontrak yang sudah berjalan akan tetap dijalankan secara normal. "Kontrak-kontrak itu akan berjalan sebagaimana yang mereka miliki," kata Dony dalam konferensi pers 8 Juni 2026. Ini adalah klausul yang mengubah perhitungan risiko jangka pendek secara signifikan. Artinya, untuk kontrak yang sudah dikunci sebelum 1 Juni 2026, ADRO masih beroperasi di bawah kerangka lama. Eksposur penuh terhadap mekanisme DSI baru berlaku setelah kontrak lama habis masa berlakunya. Asumsi yang terbenam di sini adalah: seberapa panjang kontrak ADRO yang sudah terkunci? Jika mayoritas kontrak ekspor ADRO berjangka 12 hingga 24 bulan, maka dampak riil DSI baru terasa di 2027-2028 — bukan sekarang. Asing yang membeli sekarang mungkin bertaruh bahwa pasar domestik sedang menghitung risiko DSI seolah dampaknya langsung terjadi hari ini, padahal tidak. Itu perbedaan asumsi yang cukup besar untuk menghasilkan divergensi posisi. Ada variabel lain yang perlu dicermati. Per 12 Juni 2026, pemadaman listrik bergilir terjadi di Jawa Barat dan Jawa Timur. IESR menduga pemadaman dipicu oleh rendahnya cadangan bahan bakar pada PLTU di sistem Jawa-Bali. Jika ini berkembang menjadi kekhawatiran pasokan domestik yang serius, pemerintah bisa memperketat Domestic Market Obligation atau DMO batu bara. ADRO adalah salah satu produsen batu bara terbesar Indonesia. Tekanan DMO yang meningkat adalah risiko kedua yang perlu dipantau bersamaan dengan implementasi DSI.

Proyeksi UOB Kay Hian dan Asumsi yang Harus Bertahan

Asing tidak hanya membeli berdasarkan analisis regulasi. Ada katalis fundamental yang membuat ADRO menarik secara absolut, terlepas dari isu DSI. UOB Kay Hian memproyeksikan laba bersih ADRO tahun 2026 naik 60% menjadi US$719 juta. Ada tiga pendorong utama proyeksi ini. Pertama, harga batu bara metalurgi yang masih tinggi. Kedua, kenaikan volume penjualan sebanyak 500 ribu ton menjadi 6,8 juta ton. Ketiga, mulai beroperasinya smelter aluminium dan kontribusi lebih besar dari BPI. Yang membuat proyeksi ini semakin menarik adalah struktur dividen ADRO. Untuk tahun buku 2025, ADRO membagikan dividen 100% dari laba bersih — seiring tertundanya proyek hijau yang membutuhkan capital expenditure besar. UOB Kay Hian memperkirakan jika pola ini berlanjut, ADRO bisa memberikan dividen yield 12,6% berdasarkan harga saat ini. Target harga yang dipasang adalah Rp3.400 — potensi kenaikan 51,7% dari level Rp2.240 pada 5 Juni 2026. Namun ada asumsi kritis yang harus bertahan agar thesis ini valid. Asumsi pertama: harga batu bara metalurgi bertahan di level yang mendukung margin ADRO. Asumsi kedua: DSI tidak memangkas margin ekspor secara signifikan untuk kontrak baru. Asumsi ketiga: proyek hijau ADRO terus tertunda sehingga dividen payout ratio tetap tinggi. Jika salah satu dari tiga asumsi ini berubah, proyeksi laba US$719 juta menjadi terlalu optimistis. Yang menarik adalah bahwa dua dari tiga asumsi ini — DSI dan proyek hijau — adalah variabel kebijakan, bukan variabel pasar. Artinya, trajectory ADRO lebih bergantung pada arah keputusan pemerintah daripada kondisi pasar komoditas global. Ini adalah pergeseran struktural dalam cara mengevaluasi ADRO yang mungkin belum sepenuhnya tercermin dalam konsensus domestik. Asing yang memiliki pengalaman dengan saham komoditas di pasar berkembang mungkin sudah terbiasa dengan dinamika ini. Pertanyaan yang tersisa untuk dipantau adalah: apakah DSI akan mulai menetapkan margin ekspor batu bara sebelum akhir 2026 sebagai bagian dari evaluasi tiga bulan yang dijadwalkan dalam PP No.24/2026? Jika evaluasi itu menunjukkan DSI mengambil margin di atas ekspektasi, itu adalah sinyal untuk merekalkulasi proyeksi laba. Jika evaluasi mengonfirmasi bahwa kontrak lama berjalan normal dan margin DSI minimal, thesis laba US$719 juta mendapatkan validasi pertamanya. Level Rp2.240 adalah harga saat asing mulai menambah posisi. Level Rp3.400 adalah target UOB Kay Hian. Evaluasi DSI dalam tiga bulan pertama implementasi adalah titik konfirmasi atau sanggahan yang paling konkret yang tersedia saat ini.

Link copied