AMMN Direksi Borong Rp17 Miliar|Asing Justru Jual Rp352 Miliar

· IHSG

Saham Anjlok 44%, Bos Perusahaan Malah Beli

PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) mencatatkan sesuatu yang jarang terjadi di pasar modal Indonesia.

Dalam satu pekan, empat orang direktur perusahaan ini membeli saham AMMN secara bertahap, dengan total nilai mencapai Rp17 miliar. Pembelian dilakukan ketika harga saham masih terkoreksi sekitar 44,28% secara year to date ke level Rp3.580 per saham.

Paradoks ini langsung memunculkan pertanyaan yang menekan. Jika perusahaan benar-benar dalam kondisi buruk, mengapa orang yang paling tahu kondisi internalnya justru memasukkan uang pribadinya?

Direktur Utama AMMN Arief Sidarto memulai aksi ini pada 30 Juni 2026, membeli 1,6 juta saham di harga Rp3.105 per saham senilai Rp4,97 miliar. Direktur Anthony Mathias menyusul pada 1-2 Juli dengan 1,69 juta saham di kisaran Rp3.120–Rp3.510 per saham, senilai Rp5,6 miliar.

Direktur Aditya Sasmito membeli 850.000 saham pada 6 Juli di harga Rp3.530 per saham senilai Rp3 miliar. Direktur Lal Naveen Chandra menambah 1 juta saham di Rp3.565 per saham.

Ini bukan sinyal individual — ini gerakan kolektif empat pimpinan dalam satu pekan.

Namun pada hari yang sama para direksi membeli, investor asing justru mencatatkan net sell Rp352,33 miliar di pasar reguler. Dua kelompok dengan akses informasi berbeda bergerak ke arah yang berlawanan pada aset yang sama.

Bottleneck-nya ada di sini: siapa yang membaca prospek AMMN dengan benar? Jawabannya tersimpan di dalam angka-angka operasional yang belum sepenuhnya terlihat oleh pasar.

Mengapa Direksi Yakin: Fase 8 dan Smelter yang Belum Dihitung Pasar

Keyakinan direksi AMMN tidak lahir dari intuisi — ia bertumpu pada lompatan produksi yang sedang berlangsung.

BRI Danareksa Sekuritas merilis inisiasi peliputan dengan rekomendasi buy dan target harga Rp6.000 per saham, lebih dari 60% di atas harga saat ini. Proyeksi ini didasarkan pada satu driver utama: ramp-up produksi Fase 8 Tambang Batu Hijau yang berjalan bersamaan dengan mulai beroperasinya fasilitas smelter tembaga dan Precious Metal Refinery (PMR).

Implikasinya langsung ke angka. Analis BRI Danareksa memproyeksikan pendapatan AMMN pada 2026 mencapai sekitar US$4 miliar, tumbuh 117% dibandingkan tahun sebelumnya. EBITDA diperkirakan naik 97% menjadi sekitar US$2 miliar.

Ini bukan pertumbuhan inkremental — ini transformasi skala bisnis dalam satu tahun.

Mesin pertumbuhan kedua datang dari harga komoditas. Fitch Ratings menaikkan proyeksi harga tembaga dari USD9.500 per ton menjadi USD11.500 per ton untuk 2026, didorong permintaan elektrifikasi global dan kebutuhan data center berbasis AI. AMMN, yang memiliki spesialisasi pada tembaga dan emas dengan kadar bijih tinggi, memiliki leverage sangat besar terhadap pergerakan harga ini.

Namun ada satu hal yang menjadi pertanyaan kritis: jika prospek ini sudah diketahui pasar, mengapa harga saham masih -44% YTD?

Jawabannya ada di tekanan biaya yang belum mereda. BRI Danareksa mencatat bahwa margin laba kuartal II-2026 diperkirakan menyusut sekitar 130–190 basis poin secara kuartalan, karena tingginya biaya bahan bakar dan sulfur. Tekanan sulfur terjadi karena Selat Hormuz menangani hampir separuh perdagangan sulfur dunia melalui jalur laut, sementara China membatasi ekspor asam sulfat sejak Mei.

Ini adalah jarak antara prospek jangka panjang yang kuat dan hambatan biaya jangka pendek yang nyata. Direksi membeli dengan keyakinan prospek jangka panjang — asing menjual karena tekanan biaya kuartal ini belum selesai.

Apa yang Asing Baca Berbeda: Risiko yang Direm Bukan Dihapus

Di sinilah letak asumsi tersembunyi yang perlu dibongkar.

Analis BRI Danareksa secara eksplisit menyebut bahwa AMMN dan Vale Indonesia adalah satu-satunya emiten pertambangan logam yang masih mampu membukukan pertumbuhan laba secara kuartalan di kuartal II-2026 — di tengah tekanan biaya yang memukul seluruh sektor.

Namun ada satu fakta yang investor asing tampaknya menghitung lebih serius: saham AMMN dikeluarkan dari indeks MSCI pada Mei 2026, yang memicu gelombang jual paksa dari dana pasif global.

Pembuangan MSCI ini tidak berkaitan dengan fundamental AMMN — ia berkaitan dengan kategori high shareholding concentration (HSC), yaitu konsentrasi kepemilikan yang terlalu tinggi di satu pihak, yang membuat indeks global sulit mengalokasikan bobot yang wajar.

Ini adalah asumsi tersembunyi yang membuat perbandingan insider vs. asing menjadi tidak setara: asing yang keluar dari AMMN bukan hanya karena melihat saham ini overvalued, tetapi juga karena mereka tidak bisa lagi memegang saham ini di dalam portofolio indeks.

Tekanan jual struktural ini berbeda dari penilaian fundamental. Seorang asing yang menjual AMMN karena MSCI bukan berarti mereka percaya saham ini tidak layak di Rp3.580.

Sebaliknya, risiko yang sebenarnya relevan bagi investor non-indeks adalah: kapan tekanan biaya sulfur dan bahan bakar akan mereda? BRI Danareksa memproyeksikan tekanan sulfur masih bertahan hingga kuartal III-2026, sebelum berangsur mereda pada kuartal IV. Ini adalah horizon waktu yang konkret — bukan pertanyaan abadi tentang fundamental.

Dalam satu bulan terakhir, saham AMMN sudah rebound 8% dari titik terendahnya. Pemulihan itu terjadi seiring meredanya kekhawatiran regulasi DSI (Danantara Sumberdaya Indonesia) yang sebelumnya pasar khawatirkan akan berperan sebagai state trading hub dalam ekspor komoditas. Klarifikasi bahwa DSI hanya berfungsi sebagai platform pengawasan berbasis data menghilangkan satu lapisan ketidakpastian.

Yang tersisa adalah dua risiko nyata: tekanan biaya sulfur/BBM hingga kuartal III, dan potensi pembuangan dari MSCI lebih lanjut jika evaluasi Agustus 2026 kembali berdampak.

Posisi Holder dan Watcher: Satu Angka yang Menentukan Semuanya

Sebelum kesimpulan diambil, ada satu fakta yang perlu dikonfrontasi secara jujur.

Target Rp6.000 dari BRI Danareksa adalah proyeksi berbasis sum-of-the-parts, yang memperhitungkan potensi pengembangan Proyek Elang di masa mendatang. Ini bukan angka yang segera terealisasi — ia adalah valuasi jangka menengah yang mensyaratkan ramp-up Fase 8 berjalan sesuai jadwal dan harga tembaga bertahan di atas USD10.000 per ton.

Jika salah satu dari dua syarat ini tidak terpenuhi, jarak antara Rp3.580 dan Rp6.000 menjadi tidak relevan.

Bagi pemegang saham AMMN yang sudah menahan kerugian -44% YTD, pertanyaannya bukan apakah perusahaan ini bagus dalam jangka panjang — itu sudah tidak diperdebatkan. Pertanyaannya adalah apakah tekanan biaya di kuartal III-2026 akan semakin dalam sebelum mereda, dan apakah evaluasi MSCI Agustus akan memicu gelombang jual paksa berikutnya.

Jika tekanan sulfur mulai mereda lebih cepat dari proyeksi, dan MSCI Agustus tidak menambah tekanan baru, maka ramp-up Fase 8 + smelter PMR akan mulai terbaca oleh pasar sebagai perubahan fundamental nyata — bukan sekadar janji. Itu adalah kondisi yang mengubah posisi watcher menjadi entry point.

Jika tekanan biaya bertahan melampaui kuartal III dan MSCI Agustus kembali berdampak, saham ini bisa menguji ulang level terendah 2026 meski fundamental jangka panjangnya tidak berubah.

Satu indikator awal yang paling relevan adalah angka biaya produksi dan volume output kuartal II-2026 saat laporan keuangan dirilis, ditargetkan sekitar Agustus 2026. Bukan target analis brokerage, bukan harga tembaga hari ini — tetapi apakah biaya bahan baku sudah mulai turun dan volume Fase 8 sudah sesuai rencana.

Direksi yang memborong Rp17 miliar sudah menetapkan posisinya. Yang belum memutuskan masih punya waktu sampai angka kuartal II keluar.

Link copied