ANTM Genjot Nikel, Emas Lesu|Laba 106%, Rp203M Idle

· IHSG

Emas Redup, Saham Justru Menguat

Harga emas batangan Antam hari ini stagnan di Rp2.614.000 per gram, turun Rp21 ribu dibanding sepekan lalu. Namun di saat bersamaan, saham ANTM justru menguat 2,46 persen dalam sebulan terakhir ke level Rp2.920.

Kalau komoditas andalannya melemah, seharusnya sahamnya ikut tertekan. Tapi jawabannya bukan lagi di brankas emas Antam, melainkan di tambang nikelnya.

Sepanjang 2025, produksi bijih nikel ANTM melonjak 62 persen menjadi 16,11 juta wet metric ton, dari 9,94 juta wmt setahun sebelumnya. Pergeseran bisnis inilah yang mulai menopang harga sahamnya, bukan lagi harga emas harian.

Nikel Jadi Mesin Baru

Pekan ini Kementerian ESDM mewacanakan relaksasi kuota produksi nikel untuk 2026. Analis Panin Sekuritas, Elandry Pratama, menyebut kebijakan ini sebagai katalis positif bagi ANTM dan INCO.

"Untuk ANTM, peluangnya datang dari penguatan bisnis nikel dan pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik," kata Elandry. Sementara INCO disebutnya lebih ditopang ekspansi fasilitas pengolahan.

Dalam periode yang sama, saham ANTM naik 2,46 persen ke Rp2.920, sementara saham INCO hanya menguat 0,64 persen ke Rp4.740. Pasar tampak menilai eksposur nikel ANTM lebih meyakinkan dibanding sesama pemain sektor ini.

Pergeseran ini juga tercermin di laporan keuangan. Laba tahun berjalan ANTM melonjak 106 persen menjadi Rp7,92 triliun, dari Rp3,85 triliun pada 2024, didorong efisiensi biaya dan optimalisasi portofolio komoditas.

Rp203 Miliar yang Belum Bergerak

Namun kekuatan cerita nikel ini belum sepenuhnya teruji. Hingga akhir Juni 2026, Antam masih menyisakan Rp203,29 miliar dana hasil rights issue 2025 yang belum terserap, dari total dana bersih Rp5,35 triliun yang berhasil dihimpun.

Asumsi pasar yang menyamakan nama Antam dengan harga emas justru menutupi pergeseran yang sebenarnya sedang terjadi. Pabrik Feronikel Haltim tahap satu sudah rampung seratus persen, tapi sisa dana ekspansi justru masih mengendap di pos modal kerja.

Manajemen menargetkan sisa dana itu terserap penuh pada semester kedua 2026 untuk modal kerja dan pengembangan usaha. Momen realisasi inilah yang akan membuktikan apakah ekspansi nikel benar-benar berjalan sesuai rencana, atau hanya narasi di atas kertas.

Emas Turun, Nikel yang Diuji

Bagi pemegang saham, sinyalnya jelas bercabang dua arah. Laba melonjak dan produksi nikel melesat, tapi realisasi dana ekspansi masih tertahan di pos modal kerja yang belum bergerak.

Posisi ini menjadi peluang masuk bagi calon investor baru jika penyerapan Rp203,29 miliar dan realisasi relaksasi kuota nikel terbukti mendongkrak utilisasi pabrik pada semester kedua tahun ini.

Sebaliknya, jika dana itu tetap mengendap sementara harga emas terus melemah dan menekan sentimen ritel, kenaikan saham ANTM saat ini berisiko berbalik menjadi jebakan bagi yang masuk terlalu dini.

Maka variabel yang layak dipantau bukan pergerakan harga emas harian, melainkan laporan penyerapan dana kerja dan progres realisasi kuota nikel pada semester kedua 2026.

Link copied