BACH 24% Hari Pertama|Djarum Masuk 51%, Fundamental atau Euforia Pasokan?
Grup Djarum Mencaplok BACH, Saham Langsung ARA
PT Bach Multi Global Tbk resmi melantai di Bursa Efek Indonesia pada 8 Juli 2026, dan sahamnya langsung melonjak 24,43% ke level Rp550 dalam hitungan menit.
Angka itu terlihat sebagai sinyal kuat dari pasar. Namun di balik lonjakan itu tersembunyi sebuah pertanyaan yang lebih berat: apakah investor sedang membeli bisnis BACH, atau sekadar memburu saham yang jumlahnya terlalu sedikit di pasar?
Konteks yang membuat lonjakan ini berbeda dari IPO biasa adalah masuknya PT Global Telekomunikasi Prima, entitas yang terafiliasi dengan keluarga Hartono pemilik Grup Djarum, sebagai calon pemegang saham pengendali.
Pada 7 Januari 2026, dua pemegang saham utama BACH sudah menandatangani perjanjian opsi yang memberikan hak kepada GTP untuk meningkatkan kepemilikannya dari 30% menjadi 51% setelah IPO selesai.
Artinya, ketika publik ramai membeli saham BACH lewat e-IPO, Hartono sudah lebih dulu mengunci hak atas kendali penuh perusahaan ini.
Kehadiran nama Djarum — konglomerat yang selama puluhan tahun menguasai rokok, badminton, hingga BCA — membuat BACH bukan sekadar emiten infrastruktur baru yang biasa.
BACH sendiri bukan perusahaan kecil. Perseroan mengelola lebih dari 40 ribu site telekomunikasi, mendistribusikan lebih dari 20 ribu unit genset, dan melayani lebih dari 200 pelanggan korporasi termasuk PLN Group, Bank Mandiri, BRI, dan Indosat Ooredoo Hutchison.
Laba bersih BACH pada 2025 melonjak 97,5% menjadi Rp155,5 miliar, sementara pendapatan tumbuh 39,7% menjadi Rp1,73 triliun — pertumbuhan yang jauh di atas rata-rata sektor infrastruktur.
Kenaikan ARA hari pertama itu mencerminkan antusiasme. Pertanyaannya adalah antusiasme terhadap apa yang sebenarnya.
Dua Analis, Satu Harga, Dua Kesimpulan Berbeda
Pada saat saham BACH menyentuh ARA hari pertama, dua analis dari dua sekuritas berbeda sudah menarik kesimpulan yang berlawanan dari fakta yang sama.
Sukarno Alatas dari Kiwoom Sekuritas menyatakan BACH menawarkan harga yang undervalued. Riset Kiwoom menunjukkan valuasi IPO mengimplikasikan rasio price-to-earnings 10 hingga 13 kali — jauh di bawah rata-rata industri yang berada di level 28 kali.
ROE BACH sebesar 20% juga mengungguli rata-rata industri di level 6%, dan net profit margin yang naik dari 6% menjadi 9% pada 2025 melampaui rata-rata industri di level 2%.
Dari sisi ini, ARA hari pertama bukan anomali — melainkan koreksi pasar terhadap harga IPO yang terlalu rendah.
Namun Muhammad Wafi dari KISI Sekuritas mengeluarkan catatan peringatan yang tidak bisa diabaikan.
Dalam analisisnya tentang gelombang IPO minggu ini, Wafi menyatakan bahwa ARA dapat mencerminkan kelangkaan pasokan saham akibat alokasi yang terbatas, bukan semata-mata kualitas fundamental perusahaan.
Konteks pernyataan Wafi relevan: BACH hanya melepas 15,06% saham ke publik — float yang sangat kecil. Dengan 714.803 antrian pemesanan di e-IPO, pasokan yang beredar jauh lebih sedikit dari permintaan.
Dalam kondisi float rendah, bahkan saham dengan fundamental biasa pun bisa mengalami ARA karena mekanisme teknikal murni.
Inilah konflik yang sesungguhnya: Kiwoom membaca ARA sebagai konfirmasi fundamental, KISI membaca ARA sebagai produk teknikal. Keduanya menggunakan data yang sama tetapi tiba di kesimpulan berbeda.
Dan sampai GTP mengeksekusi opsi beli 1,04 miliar saham di pasar negosiasi, harga crossing tersebut akan menjadi petunjuk pertama tentang siapa yang benar.
Bisnis BACH: Genset dan Menara Telko yang Tumbuh Diam-Diam
Yang sering luput dari perhatian dalam hiruk-pikuk euforia IPO adalah bahwa BACH sudah tumbuh cepat jauh sebelum nama Djarum tersebut.
Penjualan genset BACH melonjak 93,3% pada 2025 menjadi Rp853,7 miliar. Bisnis penyewaan genset — model yang menghasilkan pendapatan berulang — tumbuh 1.240% pada tahun yang sama menjadi Rp124,2 miliar.
Kedua segmen ini tidak tumbuh sendiri. Pertumbuhan itu berkorelasi langsung dengan meningkatnya kebutuhan daya cadangan di site telekomunikasi dan data center di seluruh Indonesia — dan BACH adalah penyedia yang sudah masuk ke dalam jaringan PLN Group, Huawei, serta Indosat Ooredoo Hutchison.
Segmen konstruksi dan pemeliharaan infrastruktur telekomunikasi memang sedikit melambat — turun 4,4% menjadi Rp755 miliar pada 2025. Ini bukan sinyal penurunan struktural; melainkan pergeseran mix pendapatan ke arah penyewaan genset yang marjinnya lebih tinggi.
Namun ada asumsi yang perlu diuji: proyeksi BACH menargetkan laba bersih naik 158% menjadi Rp401 miliar pada 2030, dengan pendapatan Rp3 triliun.
Target itu bergantung pada satu asumsi besar — bahwa sinergi dengan GTP (Djarum) akan membuka proyek telekomunikasi baru secara signifikan. Direktur Utama BACH Budi Kurniawan menyebut GTP bergerak di bidang telekomunikasi sementara kekuatan BACH ada pada pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur telekomunikasi.
Sinergi ini masuk akal di atas kertas. Tetapi realisasinya belum ada angkanya — belum ada kontrak baru yang diumumkan, belum ada backlog tambahan yang dikuantifikasi pasca-IPO.
Pertumbuhan organik BACH yang sudah terbukti solid. Pertumbuhan inorganik dari sinergi Djarum masih berbentuk proyeksi.
Opsi GTP dan Satu Angka yang Menentukan Arah
Seluruh debat tentang valuasi BACH akhirnya bermuara pada satu peristiwa yang akan terjadi dalam waktu dekat: eksekusi opsi GTP.
Berdasarkan prospektus, GTP — entitas Hartono — akan membeli 1,04 miliar saham milik BMSI melalui mekanisme crossing di pasar negosiasi BEI. Harga crossing tersebut akan ditentukan setelah proses bookbuilding IPO selesai, dan transaksi itu belum dieksekusi saat BACH listing.
Harga crossing itu adalah angka terpenting yang belum ada.
Jika GTP mengeksekusi di atas Rp550 — harga ARA Day 1 — maka sinyal yang dikirim ke pasar adalah: pemegang kendali baru menilai BACH lebih mahal dari harga yang sudah membuat investor ritel bersemangat. Ini memperkuat klaim undervalued.
Jika GTP mengeksekusi di bawah Rp442 — harga IPO — maka Hartono mendapat diskon besar atas saham yang baru saja melonjak 24%. Ini bukan sinyal bullish untuk pemegang saham publik.
Harga crossing GTP adalah titik kalibrasi yang sesungguhnya, bukan harga ARA Day 1 yang terbentuk dari float ketat.
Risiko yang perlu diakui: BACH bergantung pada beberapa pemasok genset, dan melemahnya rupiah menambah tekanan pada biaya pembelian unit genset yang sebagian besar diimpor. Manajemen menyebut strategi hedging dan penyesuaian harga jual, tetapi eksposur valuta asing ini nyata.
Namun risiko ini tidak mengubah kerangka keputusan utama: yang memutuskan apakah BACH adalah peluang atau perangkap bukan pergerakan rupiah, melainkan harga yang dibayar Hartono untuk 1,04 miliar saham itu.
Bagi yang sudah pegang BACH dari IPO, checkpoint utamanya adalah angka crossing GTP — bukan harga Day 2 pasar reguler.
Bagi yang belum masuk, harga crossing GTP adalah konfirmasi yang worth menunggu sebelum mengambil posisi di saham dengan float setipis ini.
- [katadata.co.id] Sinergi Grup Djarum, BACH Incar Revenue Rp3T & Ekspansi di 2030 - Emit…
- [katadata.co.id] Penetapan Saham PT Bach Multi Global Tbk Sebagai Efek Syariah - OJK
- [market.bisnis.com] Bedah Prospek IPO BACH Lewat Proyeksi Fundamental dan Valuasi Saham -…
- [liputan6.com] Bos BACH Ungkap Strategi Hadapi Gejolak Rupiah - Liputan6.com
- [investor.id] Antrean Saham IPO PRDL & RANS Tembus 1 Juta, Bakal ARA? - investor.id