Bukalapak BUKA|Untung Naik 29%, Tapi Rugi Rp820 M
Kontradiksi di Laporan Keuangan
PT Bukalapak.com Tbk, atau BUKA, baru saja merilis laporan keuangan semester pertama 2026 dengan angka yang saling bertentangan. Pendapatan bersih perusahaan naik 29,54 persen secara tahunan menjadi Rp3,99 triliun, dari sebelumnya Rp3,08 triliun. Namun di saat yang sama, perusahaan membukukan rugi bersih Rp820,74 miliar, berbalik dari laba bersih Rp464,45 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Bagi pemegang saham BUKA, kontradiksi ini memicu pertanyaan mendasar: apakah bisnis ini sedang tumbuh atau justru memburuk?
Rugi tersebut membuat BUKA mencatat rugi per saham dasar sebesar Rp8,53, berbanding terbalik dengan laba per saham Rp4,43 pada semester satu 2025. Jika hanya melihat baris bawah laporan laba rugi, kesimpulan yang wajar adalah kinerja perusahaan sedang merosot tajam. Tapi laporan yang sama juga mencatat Adjusted EBITDA tetap positif Rp10 miliar sepanjang semester satu 2026, membaik dibandingkan negatif Rp34 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Dua angka ini seharusnya bergerak searah, namun keduanya bergerak berlawanan.
Pertanyaan yang perlu dijawab bukan apakah BUKA rugi, tapi dari mana kerugian itu berasal. Sebab jika sumbernya operasional inti, itu sinyal peringatan serius bagi pemegang saham. Tapi jika sumbernya berada di luar operasional, pembacaan investor perlu berubah sepenuhnya.
Sumber Sebenarnya Kerugian
Laporan keuangan BUKA mencatat rugi nilai investasi sebesar Rp1,74 triliun pada semester satu 2026, berbalik dari laba Rp243,22 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Ini adalah pos tunggal terbesar yang menyeret laporan laba rugi perusahaan ke zona merah. Akibat pos ini, BUKA mencatat rugi usaha Rp977,62 miliar, setelah sebelumnya membukukan laba usaha Rp58,18 miliar.
Menariknya, pendapatan operasi lainnya justru berbalik positif menjadi Rp793,23 miliar, dari rugi Rp32,3 miliar pada semester satu 2025. Artinya, di luar pos investasi yang merugi, hampir seluruh komponen operasional BUKA justru menunjukkan perbaikan. Beban umum dan administrasi bahkan turun menjadi Rp194,06 miliar dari Rp305,93 miliar sebelumnya, tanda disiplin biaya yang lebih ketat.
Dengan begitu, gambaran rugi bersih Rp820,74 miliar perlu dibaca ulang. Ini bukan cerita bisnis inti yang runtuh, melainkan satu pos investasi yang bergerak negatif dan cukup besar untuk menutupi perbaikan di sisi operasional. Pertanyaannya bergeser: seberapa sehat sebenarnya inti bisnis BUKA di luar pos investasi tersebut?
Gaming Jadi Tulang Punggung Baru
Bukti kesehatan operasional itu ada pada segmen gaming. Pendapatan bisnis top up game dan produk digital melonjak 42 persen secara tahunan menjadi Rp3,5 triliun sepanjang semester satu 2026, didukung ekspansi bisnis internasional. Segmen ini kini menyumbang sekitar 87 persen dari total pendapatan Bukalapak, jauh melampaui kontribusi bisnis marketplace yang dulu menjadi identitas utama perusahaan. Direktur Bukalapak, Victor Putra Lesmana, menyebut perkembangan ini sebagai bukti transformasi bisnis yang mulai membuahkan hasil.
Namun transformasi ini punya biaya. Pendapatan segmen Mitra turun 27 persen secara tahunan karena perusahaan memilih lebih selektif dalam menawarkan produk demi profitabilitas, sementara segmen ritel juga turun 14 persen menjadi Rp139 miliar. Kedua segmen ini justru mencatat perbaikan margin kontribusi meski pendapatannya menyusut, menunjukkan pergeseran strategi dari volume menuju kualitas laba.
Dengan gaming kini menjadi mesin pendapatan utama dan segmen lain terkonsolidasi lebih ramping, jawaban atas pertanyaan sentral mulai terbentuk. Rugi bersih semester ini bukan potret bisnis yang gagal, melainkan potret perusahaan dalam transisi model bisnis, dengan satu pos investasi yang kebetulan mencatat kerugian besar pada periode yang sama.
Apa yang Perlu Diawasi Selanjutnya
Meski demikian, dampak rugi nilai investasi tetap terasa di neraca. Total aset Bukalapak turun menjadi Rp24,87 triliun per 30 Juni 2026, dari Rp26,03 triliun di akhir 2025, sementara defisit akumulasi membengkak menjadi Rp7,93 triliun dari Rp7,11 triliun sebelumnya. Artikel yang tersedia tidak merinci instrumen investasi spesifik yang mengalami kerugian ini, sehingga sifat kerugian tersebut, apakah bersifat satu kali atau berpotensi berulang, tetap menjadi pertanyaan terbuka.
Bagi pemegang saham dan calon investor, checkpoint yang paling relevan adalah laporan kuartal ketiga 2026. Jika Adjusted EBITDA tetap positif dan segmen gaming terus tumbuh tanpa kerugian investasi sebesar ini terulang, tesis transformasi bisnis BUKA akan semakin kuat. Sebaliknya, jika rugi nilai investasi kembali muncul dalam skala besar, itu akan mengubah pembacaan dari transisi bisnis sehat menjadi kerentanan struktural pada neraca perusahaan. Untuk saat ini, data operasional condong mendukung interpretasi bahwa inti bisnis Bukalapak sedang membaik, sekalipun laporan laba rugi belum mencerminkannya secara langsung.
- [katadata.co.id] Sektor Gaming Jadi Motor Pertumbuhan Bukalapak Cetak EBITA Positif - I…
- [medcom.id] Bukalapak Catat Pendapatan Rp4 Triliun Semester I 2026 - BERNAS.id
- [liputan6.com] Pendapatan Bukalapak Naik 29% Ditopang Bisnis Gaming - Liputan6.com
- [market.bisnis.com] Bukalapak Berbalik Rugi, Nilai Investasi Tergerus Rp1,75 Triliun - CNB…
- [wartaekonomi.co.id] Bukalapak Rugi Rp820 Miliar pada Semester I 2026 - Databoks
- [emitennews.com] Kerugian Bukalapak membengkak, investasi tekor Rp1,74 triliun - IDNFin…