BUMI Rp196, Level Tertinggi 2 Bulan|Bukan Batu Bara, Ini Alasan Analis

· IHSG

Rally Tanpa Batu Bara

Saham PT Bumi Resources melonjak ke Rp196 pada perdagangan Kamis, level tertinggi dalam lebih dari dua bulan. Sesi pertama saja saham BUMI ditutup naik 15,48 persen ke Rp194, dengan nilai transaksi harian menembus Rp1,2 triliun.

Yang mengejutkan, penjelasan analis untuk rally ini bukan soal harga batu bara. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji, menyebut kenaikan ini didorong sentimen kehadiran Grup Salim yang memberikan jangkar kredibilitas dan memulihkan tata kelola perusahaan.

Data Stockbit Sekuritas mencatat BUMI membukukan net buy asing Rp218 miliar, tertinggi di antara seluruh saham net buy hari ini. Sebanyak 4,61 miliar saham diperdagangkan dengan frekuensi lebih dari 76 ribu kali hanya di sesi pertama.

BUMI tetap memegang takhta sebagai produsen batu bara terbesar Indonesia lewat Kaltim Prima Coal dan Arutmin. Tapi jika harga batu bara bukan alasan rally hari ini, maka pertanyaannya adalah aset apa di balik BUMI yang sedang direpricing pasar.

Jangkar Salim dan Emas Australia

Jawabannya ada pada Wolfram Limited, perusahaan tambang emas dan tembaga di Australia yang diakuisisi penuh oleh BUMI pada November 2025. Wolfram memiliki dua aset utama, Crush Creek dan Mount Carlton, dengan total cadangan gabungan lebih dari 300 ribu ounce emas.

Proyek Mount Carlton kembali beroperasi setelah diresmikan Menteri Pertambangan Queensland pada 30 Juni 2026, menciptakan sekitar 300 lapangan kerja baru. Bumi Resources menyebut penambangan bawah tanah dan akses ke bijih berkadar lebih tinggi bahkan sudah lebih cepat dari jadwal.

Samuel Sekuritas dalam riset 21 Juli 2026 tetap merekomendasikan buy untuk BUMI dengan target harga Rp300, jauh di atas level perdagangan saat ini. Mereka mencatat akuisisi Wolfram tercermin di valuasi EV per cadangan sebesar 133 dolar AS per ounce, diskon 64 persen dari rata-rata tertimbang global untuk transaksi sejenis.

Nafan Aji menambahkan, penyelesaian utang lewat private placement jumbo di masa lalu telah memangkas beban bunga BUMI secara drastis, memberi fleksibilitas arus kas untuk ekspansi dan hilirisasi. Inilah dasar argumen re-rating jangka panjang yang coba dibangun analis hari ini, bukan sekadar momentum harga batu bara.

Dua Target, Dua Horizon

Namun di hari yang sama, BNI Sekuritas memberi rekomendasi yang jauh lebih konservatif. Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, menyebut BUMI sebagai spec buy dengan area beli di Rp167-168, cutloss di bawah Rp165, dan target dekat hanya Rp171-174.

Yang membuat perbedaan ini tajam, harga BUMI sempat menyentuh Rp196 di sesi kedua hari ini, sudah melewati target teknikal jangka pendek BNI Sekuritas. Artinya sebagian pelaku pasar sudah memegang sinyal jual taktis, sementara sebagian lain baru melihat rally ini sebagai awal dari re-rating jangka panjang menuju Rp300.

Ini bukan soal siapa yang benar. Kedua target berangkat dari data yang sama namun mengukur sesuatu yang berbeda: satu mengukur momentum harga jangka pendek, satu mengukur potensi transformasi bisnis jangka panjang lewat Wolfram. Pemegang saham lama dan pemburu momentum baru berdiri di dua sisi keputusan yang berbeda pada saat bersamaan.

Bagi yang sudah memegang BUMI, level di atas Rp190 adalah titik untuk menimbang ambil untung sebagian mengikuti sinyal teknikal BNI Sekuritas. Bagi yang baru mengamati dari luar, tesis re-rating Samuel Sekuritas baru menjadi sah bila laporan produksi emas dan tembaga dari Mount Carlton dalam beberapa bulan ke depan menunjukkan volume nyata sesuai klaim BUMI hari ini. Jika volume itu terkonfirmasi, rally hari ini adalah awal, bukan puncak. Jika laporan produksi mengecewakan, level Rp196 hari ini yang akan dikenang sebagai puncaknya.

Link copied