COCO Wahana Interfood 160%|Rights Issue Rp1,28 T, Rugi Rp250 M

· IHSG

Produsen Cokelat Naik 160% Saat Masih Merugi

PT Wahana Interfood Nusantara, produsen kakao dan makanan berbasis cokelat yang produknya dikenal di rak supermarket seluruh Indonesia, mencatatkan kenaikan saham 160 persen hanya dalam 12 hari perdagangan — dari penutupan 30 Juni ke level Rp334 pada 6 Juli 2026. Yang mengejutkan, kenaikan ini terjadi di tengah laporan keuangan 2025 yang menunjukkan rugi bersih sebesar Rp250,85 miliar, sementara penjualan hanya Rp165,08 miliar. Botol paradoks ini bukan soal fundamental yang membaik — melainkan soal satu aksi korporasi besar yang menciptakan tekanan keputusan bagi siapa pun yang melihat saham ini hari ini.

Di balik lonjakan harga itu tersembunyi sebuah kalkulasi yang tidak sederhana: perusahaan membuka rights issue dengan harga pelaksanaan Rp120 per saham, jauh di bawah harga pasar Rp334. Spread sebesar itu menciptakan sebuah pertanyaan yang memecah dua kelompok investor menjadi posisi yang berlawanan. Pemegang saham lama memiliki hak membeli saham baru di Rp120 — jauh lebih murah dari harga pasar. Investor baru yang masuk di Rp334 tidak punya hak itu. Dan di sinilah tekanan keputusan yang sesungguhnya dimulai.

Rights Issue Rp1,28 Triliun dan Dilusi 75 Persen

Angka rights issue COCO tergolong jumbo untuk ukuran emitennya. Perusahaan menerbitkan hingga 10,68 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp120 per saham, menargetkan dana Rp1,28 triliun — hampir delapan kali lipat pendapatan tahunan perusahaan itu sendiri. Periode perdagangan HMETD dimulai 14 Juli 2026, artinya pemegang saham yang tercatat pada recording date 10 Juli memiliki waktu seminggu untuk memutuskan apakah akan mengeksekusi hak atau melepasnya. Pemegang saham yang tidak mengeksekusi akan menghadapi dilusi kepemilikan hingga 75 persen — angka yang tidak lazim bahkan untuk standar rights issue agresif sekalipun.

Yang menjadi titik konflik sesungguhnya adalah posisi asimetris antara pengendali dan publik. Mahogany Global Investment — pemegang saham pengendali dengan porsi 51,32 persen — telah menyatakan komitmen untuk mengeksekusi seluruh hak HMETD-nya sekaligus bertindak sebagai standby buyer bagi sisa saham yang tidak diserap publik. Artinya, Mahogany siap menyerap hingga 4,30 miliar saham tambahan di harga Rp120 — jauh di bawah harga pasar. Sementara itu, investor publik yang memilih tidak ikut akan mengalami kepemilikannya terdilusi hingga 75 persen. Satu pihak mengunci posisi murah dengan kepastian penuh; pihak lain harus membayar lebih mahal atau terseret dilusi.

Di sinilah logika kenaikan 160 persen itu mulai terbaca berbeda. Saham COCO tidak naik karena fundamental membaik — perusahaan masih merugi dan pendapatannya stagnan. Saham naik karena investor melihat spread Rp214 antara harga pasar dan harga HMETD sebagai peluang arbitrase: masuk sebelum ex-date, dapatkan hak beli di Rp120, jual di pasar sekitar Rp334. Namun logika itu mengandung asumsi kritis yang belum terbukti: bahwa harga pasar akan bertahan di atas Rp120 setelah ex-date, dan bahwa perusahaan yang masih merugi ini benar-benar mampu mengeksekusi ekspansi besar yang menjadi alasan rights issue ini diterbitkan.

Taruhan Rp1,17 Triliun pada PT Sari Murni Abadi

Sebagian besar dana rights issue — sekitar Rp1,17 triliun — dialokasikan untuk mengakuisisi PT Sari Murni Abadi, sebuah langkah ekspansi yang nilainya tujuh kali lipat pendapatan tahunan COCO sendiri. Manajemen memposisikan ini sebagai turnaround: dengan pabrik baru di Sumedang berkapasitas 20.000 ton per tahun dan akuisisi SMA, COCO berambisi memperkuat posisi di industri cokelat nasional yang proyeksi konsumsinya tumbuh 4,13 persen per tahun hingga 2031. Narasi pertumbuhan industri itu memang meyakinkan — konsumsi cokelat Indonesia diproyeksikan mencapai 108,1 juta kilogram pada 2031.

Namun di sinilah asumsi yang perlu dicermati: rugi bersih Rp250,85 miliar pada 2025 bukan semata dari penurunan penjualan — laporan keuangan mencatat penyebab utamanya adalah meningkatnya beban operasional, termasuk penyisihan penurunan nilai aset. Artinya, struktur biaya perusahaan belum efisien sebelum ekspansi ini dimulai. Menambahkan kapasitas dan akuisisi entitas baru di atas fondasi yang masih merugi adalah taruhan bahwa skala baru akan memecahkan masalah biaya yang belum terpecahkan di skala lama. Kontan dan Krusial memperingatkan kondisi ini, sementara manajemen COCO menyatakan optimisme terhadap prospek industri jangka panjang — dua pembacaan yang berlawanan dari fakta yang sama.

Yang membuat posisi ini sulit dibaca adalah tidak adanya angka terkonfirmasi tentang kapasitas operasional PT Sari Murni Abadi yang akan diakuisisi, atau seberapa cepat kontribusinya bisa mengubah struktur laba COCO. Investor yang masuk hari ini pada dasarnya mempertaruhkan bahwa seluruh rantai — akuisisi selesai, integrasi berjalan, kapasitas terisi, biaya turun — akan terwujud sebelum tekanan dilusi dan beban operasional menghapus nilai yang tersisa. Itu bukan pertanyaan yang bisa dijawab dari harga pasar Rp334 saat ini.

Checkpoint: 14 Juli dan Kondisi yang Memisahkan Peluang dari Jebakan

Titik verifikasi terdekat adalah periode pelaksanaan HMETD yang dimulai 14 Juli 2026. Selama tujuh hari itu, harga saham di pasar sekunder akan menunjukkan apakah arbitrase spread Rp214 masih terbuka atau sudah menutup — karena setelah ex-date, harga teoritis saham akan menyesuaikan turun seiring penerbitan 10,68 miliar saham baru. Jika harga pasar bertahan signifikan di atas Rp120 selama periode ini, berarti pasar percaya pada narasi turnaround SMA. Jika harga runtuh mendekati atau di bawah Rp120, spread yang selama ini mendorong kenaikan 160 persen itu terbukti hanya arbitrase sementara.

Bagi pemegang saham yang sudah masuk sebelum recording date 10 Juli, keputusannya biner: eksekusi HMETD di Rp120 untuk mempertahankan proporsi kepemilikan, atau terima dilusi 75 persen. Tidak ada pilihan tengah yang netral. Bagi investor yang belum masuk, masuk sebelum ex-date berarti membeli di harga pasar yang sudah naik 160 persen tanpa hak HMETD — risiko jatuh bersama penyesuaian harga ex-date. Peluang terbuka setelah ex-date hanya jika dua kondisi terpenuhi: harga setelah penyesuaian masih di atas Rp120, dan ada bukti konkret bahwa akuisisi PT Sari Murni Abadi berjalan sesuai prospektus. Tanpa kedua kondisi itu terkonfirmasi, kenaikan 160 persen ini tetap menjadi arbitrase rights issue, bukan sinyal pembalikan fundamental.

Link copied