Darma Henwa|Laba 89%, inti turun 41%
Rekor laba DEWA
Darma Henwa, atau DEWA, mencatat laba semester I sebesar Rp354,28 miliar. Angka itu naik 89,01% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Namun pendapatan jasa pertambangan hanya tumbuh 3,13% menjadi Rp3,21 triliun. Jarak antara pertumbuhan pendapatan dan laba membuat kualitas lonjakan ini perlu diperiksa.
Jadi pertanyaannya bukan sekadar berapa besar laba DEWA. Pertanyaan pentingnya adalah dari mana laba itu berasal dan apakah dapat berulang.
Kualitas angka yang retak
Analisis Mandiri Sekuritas menyebut lonjakan laba dipengaruhi perubahan nilai investasi Rp255 miliar. Pos ini menjadi pembeda utama antara angka laporan dan daya laba operasi.
Jika perubahan nilai investasi itu dikeluarkan, laba bersih semester pertama justru turun 41%. Artinya, rekor laba belum otomatis berarti mesin bisnis DEWA semakin kuat.
Pembacaan DEWA berubah dari cerita pertumbuhan menjadi cerita kualitas laba. Pemegang saham kini perlu memisahkan keuntungan akuntansi dari kemampuan menghasilkan laba melalui jasa pertambangan.
Biaya dan kontrak baru
Tekanan operasional juga belum hilang karena biaya bunga naik 70% menjadi Rp207 miliar. Analisis yang sama mencatat biaya operasi meningkat 47%.
Harapan perbaikan berikutnya datang dari kontrak Sebuku Sejaka Coal. Kontrak itu mencakup produksi 5 juta ton dan pemindahan lapisan penutup 55 juta bcm.
Kontrak tersebut diperkirakan membantu laba pada kuartal IV tahun ini. Tetapi itu masih merupakan proyeksi, sehingga pelaksanaannya harus dibuktikan oleh volume dan biaya yang nyata.
Sikap setelah headline
Ada dasar operasional yang membaik karena laba bruto naik 23,45% menjadi Rp612,16 miliar. Namun kenaikan ini belum menghapus masalah dari biaya bunga dan faktor investasi.
Karena itu, pertanyaan DEWA bukan lagi apakah labanya naik. Pertanyaannya adalah apakah kontrak baru dapat mengubah pertumbuhan pendapatan menjadi laba berulang.
Sikap yang paling kuat saat ini adalah menunggu bukti operasi, bukan mengejar angka rekor semata. Kuartal IV menjadi titik pemeriksaan untuk melihat apakah produksi dan pengupasan berjalan sesuai rencana, sementara batas bukti saat ini masih menunjukkan kualitas laba yang belum sepenuhnya teruji.