Emas ANTM Rp2.754.000 Anjlok|Konflik Memanas, Safe Haven Justru Dibuang?

· IHSG

Dolar Menguat, Rupiah Melemah, Emas Ditekan

Harga emas dunia menyentuh US$4.385 per ons pada Kamis 28 Mei — level terendah dalam dua bulan — bukan karena konflik mereda, melainkan justru saat ketegangan AS-Iran semakin dalam. Ini bukan pergerakan yang sederhana.

Rupiah hari ini jatuh 57 poin ke Rp17.858 per dolar AS. Trimegah Sekuritas menyebut pelemahan ini sudah memasuki fase overshooting — rupiah bergerak lebih dalam dari yang dibenarkan fundamental jangka panjang Indonesia. Artinya, terlalu banyak tekanan ekonomi yang akhirnya ditanggung satu instrumen saja.

Kepala Ekonom Trimegah Fakhrul Fulvian menjelaskan mekanismenya: pemerintah menahan penyesuaian harga energi demi menjaga daya beli, tapi tekanan itu tidak hilang — tekanan berpindah ke kurs. Inflasi ditahan, harga BBM ditahan, namun pasar valuta asing yang bergerak paling ekstrem.

Indeks dolar AS naik 0,14% ke level 99,34 hari ini. Saat dolar menguat, aset berbasis dolar seperti emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain — termasuk investor Indonesia yang memegang rupiah. Aksi jual masif terjadi bukan karena kepercayaan pada emas hilang, tetapi karena biaya menahannya meningkat.

Harga emas Antam ANTM hari ini ambrol Rp31.000 menjadi Rp2.754.000 per gram. Buyback turun Rp37.000 ke Rp2.557.000. Di sisi lain, harga emas BSI tercatat Rp2.755.000 per gram — investor ritel yang memegang pecahan kecil lewat BSI, HRTA Emasku, atau Minigold merasakan koreksi ini langsung di portofolio mereka.

Konflik Iran Seharusnya Mendorong Emas — Tapi Justru Sebaliknya

Inilah yang membuat hari ini berbeda dari asumsi banyak pemegang emas: konflik AS-Iran yang berkepanjangan seharusnya menjaga emas tetap tinggi, namun kenyataannya berlawanan.

Mekanismenya bekerja lewat dua jalur yang saling bertentangan. Konflik memang meningkatkan permintaan safe haven — tapi konflik yang sama juga mendorong harga minyak naik karena Selat Hormuz terancam. Minyak mahal berarti inflasi global naik. Inflasi naik berarti The Fed diperkirakan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Suku bunga tinggi membuat obligasi pemerintah dan instrumen berbunga lebih menarik dibanding emas yang tidak memberikan imbal hasil berkala.

UBS memotong target emas akhir tahun dari US$5.900 menjadi US$5.500. Bukan karena mereka tidak percaya emas — pernyataan Mark Haefele, Chief Investment Officer UBS Global Wealth Management, menegaskan mereka tetap optimistis. Yang berubah bukan thesis fundamental emas, melainkan premis waktu: selama The Fed hawkish, daya saing emas terhadap obligasi melemah. Bank of America memasang target US$5.093 di akhir 2026, lalu dingin ke US$4.925 pada akhir 2027.

Di sinilah premis tersembunyi investor domestik bekerja. Sebagian besar pemegang emas Indonesia masuk ke posisi dengan asumsi bahwa konflik geopolitik = emas naik. Asumsi itu tidak salah secara historis — pada 2025, emas dan perak masing-masing naik 66% dan 135%. Tapi premis itu hanya berlaku saat suku bunga rendah. Saat suku bunga tinggi dan inflasi terus naik akibat perang, investor memilih aset yang menghasilkan pendapatan pasti. Yield obligasi pemerintah di AS, Eropa, dan Jepang semuanya naik bersamaan hari ini — tekanan yang sama dari semua arah.

Perak hari ini turun 2,4% ke US$72,85. Platinum turun 1,7%. Paladium turun 1,7%. Penjualan tidak hanya pada emas — seluruh logam mulia dijual dalam satu sesi.

Namun ada yang perlu diperhatikan: volume penjualan pada candle penurunan terbaru Bitcoin — yang dipimpin outflow ETF IBIT BlackRock sebesar US$527,8 juta — menunjukkan momentum turun mulai melambat. Emas dan Bitcoin berbagi pembeli yang sama: investor yang mencari aset di luar sistem fiat. Bila tekanan jual ETF kripto mereda, satu bagian dari tekanan jual emas juga bisa berkurang.

Kapan Emas Kembali? Satu Kondisi yang Menentukan

Pertanyaan dari layer sebelumnya belum terjawab: apakah penurunan ini membuka peluang akumulasi, atau awal dari koreksi yang lebih panjang?

Pengamat pasar komoditas Ibrahim Assuaibi memprediksi harga emas Antam ANTM bisa turun ke Rp2.745.000 pada Jumat 29 Mei, bahkan berpotensi menyentuh Rp2.720.000 pada Sabtu 30 Mei jika dolar AS terus menguat. Dia tidak merekomendasikan profit taking sekarang — tapi juga tidak membeli. Yang dia tunggu adalah satu kondisi tunggal: pembukaan kembali Selat Hormuz.

"Kalau Selat Hormuz sudah dibuka, siap-siap logam mulia akan terbang. Kenaikannya bisa lebih cepat dibanding penurunannya," kata Ibrahim. Mekanismenya: Hormuz terbuka → harga minyak turun → tekanan inflasi mereda → ekspektasi The Fed melunak → yield obligasi turun → emas kembali kompetitif.

Namun ada jalur lain yang tidak banyak dibahas hari ini. Trimegah memperkirakan bila bauran kebijakan fiskal dan moneter Indonesia membaik — BI kredibel, fiskal lebih realistis, komunikasi kebijakan kuat — rupiah berpotensi menguat ke level Rp16.800–17.000. Bila rupiah menguat signifikan, harga emas domestik dalam rupiah akan semakin tertekan meski harga dolar stabil. Investor emas Indonesia menghadapi tekanan ganda: harga spot dolar turun sekaligus rupiah menguat.

Secara historis, pola ini pernah terjadi pada 2022 ketika The Fed mulai siklus kenaikan agresif. Emas spot dunia turun dari US$2.050 ke US$1.620 dalam delapan bulan — meski ketidakpastian geopolitik tetap tinggi — sebelum akhirnya rebound ketika ekspektasi suku bunga mencapai puncaknya. Perbedaan saat ini: level emas jauh lebih tinggi, dan starting point suku bunga sudah di posisi tinggi, sehingga ruang kenaikan lebih lanjut lebih terbatas.

Untuk investor yang memegang ANTM atau emas BSI: kondisi kelanjutan tekanan ada bila yield obligasi AS terus naik di atas 4,8% dan dolar bertahan di atas 99 dalam dua sesi ke depan. Kondisi pembalikan ada bila Selat Hormuz menunjukkan tanda-tanda normalisasi atau data inflasi AS minggu depan lebih rendah dari ekspektasi.

Yang belum terjawab: apakah tekanan jual hari ini berasal dari profit-taking investor yang masuk di level US$4.000-an, atau rebalancing struktural menuju obligasi? Bila yang bergerak adalah profit-taker, tekanan akan mereda dalam beberapa sesi. Bila rebalancing struktural — capital class yang bergeser dari emas ke obligasi — maka level Rp2.720.000 bukan dasar, melainkan titik transisi ke fase yang lebih panjang.

Link copied