Fortune Indonesia FORU|Saham Melonjak 171%, Bursa Malah Setop Perdagangan

· IHSG

Lonjakan 171% dan Suspensi Bursa

Saham PT Fortune Indonesia Tbk atau FORU melonjak 171,51 persen dalam waktu singkat. Bursa Efek Indonesia langsung menghentikan sementara perdagangan sahamnya.

Yang menarik, lonjakan sebesar ini biasanya jadi kabar gembira bagi pemegang saham. Tapi otoritas bursa justru membacanya sebagai sinyal bahaya yang perlu diredam lebih dulu.

Pemicu lonjakan itu adalah pengumuman rencana penambahan modal atau rights issue senilai Rp27,1 triliun. Perseroan berencana menerbitkan saham baru sebanyak-banyaknya 215,09 miliar lembar, setara 99,78 persen dari modal yang akan beredar setelah aksi ini.

Dana itu bukan untuk memperkuat bisnis media dan percetakan yang selama ini menjadi induk usaha FORU. Sebagian besar justru diarahkan untuk mengakuisisi PT Borneo Prima, perusahaan tambang batu bara metalurgi di Kalimantan Tengah, lewat mekanisme yang disebut inbreng.

Skema Inbreng: Siapa Membayar dengan Apa

Inbreng berarti setoran modal dalam bentuk bukan uang tunai, melainkan aset. Dalam kasus FORU, ini menjadi variabel yang membelah dua kelas pemegang saham dalam satu aksi korporasi yang sama.

IMR Asia Holding, selaku pengendali FORU, akan mengambil bagian sebesar 165,22 miliar saham baru senilai Rp20,82 triliun. Namun penyetorannya bukan dengan uang tunai, melainkan dengan menyerahkan 49 persen kepemilikan sahamnya di Borneo Prima.

Di sisi lain, pemegang saham publik yang ingin ikut serta wajib menyetor dengan uang tunai, dengan porsi maksimal sekitar Rp6,28 triliun. Artinya, saat pengendali cukup memindahkan aset yang sudah ia miliki, publik harus benar-benar mengeluarkan uang baru untuk mempertahankan porsi kepemilikannya.

Dana tunai hasil setoran publik itu pun rencananya disalurkan sebagai pinjaman kepada Borneo Prima untuk modal kerja pertambangan. Publik membayar tunai, tapi hasilnya dialirkan untuk mendanai operasional aset yang baru masuk lewat jalur pengendali.

Dengan begitu, gambaran rights issue ini bukan sekadar ekspansi bisnis biasa. Ia adalah pergeseran beban dan risiko dari pengendali kepada pemegang saham publik, yang tersembunyi di balik narasi transformasi menuju bisnis tambang.

Proyeksi Laba 387% dan Janji Batu Bara Kokas

Manajemen FORU memproyeksikan laba bersih perseroan berubah dari rugi Rp4,15 miliar menjadi laba Rp11,94 miliar setelah konsolidasi, atau melonjak 387,63 persen. Pendapatan usaha bahkan diproyeksikan naik 3.516,89 persen.

Namun lonjakan pendapatan dan laba fantastis itu bukan berasal dari perbaikan kinerja bisnis media dan periklanan yang selama ini dijalankan FORU. Seluruhnya berasal dari kontribusi Borneo Prima yang baru masuk lewat konsolidasi akuntansi.

Manajemen menyebut permintaan batu bara kokas tetap tumbuh seiring ekspansi industri baja di India dan Asia Tenggara, dengan harga diperkirakan bertahan di atas 200 dolar AS per metrik ton dalam lima tahun ke depan. Produksi domestik pun baru memenuhi sekitar 20 persen kebutuhan nasional, sehingga peluang pasarnya masih terbuka.

Tapi ini berarti seluruh cerita pertumbuhan laba FORU kini bergantung pada asumsi harga komoditas batu bara kokas, bukan lagi pada model bisnis media yang selama ini dikenal investor. Ketika harga komoditas berbalik turun, proyeksi laba yang dijual hari ini bisa runtuh lebih cepat dari yang dibayangkan.

Yang Harus Dipantau Pemegang Saham

Seluruh rencana ini masih menunggu persetujuan pemegang saham dalam RUPSLB yang digelar pada 22 Juli 2026, sekaligus pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan. Sampai kedua tahap ini tuntas, transaksi belum benar-benar mengikat.

Bagi pemegang saham lama, variabel yang paling menentukan adalah seberapa besar hak rights issue benar-benar diserap oleh publik. Jika penyerapan rendah, porsi kepemilikan publik akan tergerus jauh lebih dalam dibanding perkiraan awal, sementara jika serapan tinggi, dilusi tersebar lebih merata.

Bagi calon investor yang belum memiliki saham ini, variabel penentunya adalah realisasi produksi dan penjualan Borneo Prima setelah akuisisi tuntas, bukan sekadar proyeksi laba di atas kertas. Jika produksi dan penjualan batu bara kokas terbukti sesuai proyeksi, transformasi ini bisa menjadi peluang masuk pada bisnis baru dengan valuasi yang belum sepenuhnya tercermin di harga.

Namun jika serapan publik rendah dan harga batu bara kokas melemah bersamaan, kombinasi itu bisa mengubah cerita transformasi menjadi jebakan dilusi semata. Maka sebelum mengambil keputusan, hal pertama yang perlu dipantau adalah hasil RUPSLB 22 Juli dan rasio serapan HMETD dari pemegang saham publik saat periode pelaksanaan dibuka.

Link copied