GOTO ARB ke Gocap|Baru Laba Pertama, Danantara Sudah Masuk
Hari yang Seharusnya Perayaan
Hari ini, Senin 4 Mei 2026, PT GoTo Gojek Tokopedia menjadi satu-satunya emiten teknologi besar Indonesia yang mencatat laba bersih untuk pertama kali dalam sejarahnya — Rp171 miliar di kuartal pertama tahun ini. Di hari yang sama, pemerintah resmi masuk sebagai pemegang saham GoTo melalui Danantara. Namun saham GOTO justru menyentuh auto-rejection bawah dan kembali ke level gocap.
IHSG sendiri dibuka kencang pagi ini, sempat melonjak lebih dari 1 persen ke level 7.069 setelah akhir pekan panjang. Sentimen regional menguat — bursa Korea Selatan, KOSPI, mencetak rekor tertinggi dengan lonjakan 5 persen pada hari yang sama. Saham-saham perbankan besar seperti BBRI dan BBCA menjadi penopang indeks. Dana asing pun tercatat net buy lebih dari Rp2,3 triliun di sesi pertama, sinyal yang jarang terlihat beberapa pekan terakhir.
Namun di tengah penguatan itu, GOTO justru bergerak berlawanan arah. Saham GRAB yang terdaftar di bursa AS juga ikut terpeleset. Penguatan IHSG yang sempat melebihi 1 persen akhirnya terpangkas menjadi hanya 0,22 persen di penutupan, karena dua berita besar menekan pasar: data neraca dagang Maret 2026 yang surplus-nya mengecil, dan yang lebih panas adalah berita komisi ojol dipangkas jadi 8 persen. Kabar itulah yang membuat saham aplikator transportasi online kompak jatuh.
Inilah tegangan yang menarik untuk dicermati hari ini. GoTo baru saja membuktikan model bisnisnya bisa menghasilkan laba. Danantara masuk sebagai sinyal dukungan negara. Tapi pasar justru menjual. Mengapa?
Laba Pertama, Risiko Baru
Untuk memahami kenapa saham GOTO anjlok justru di momen terbaiknya, kita perlu melihat dari mana laba Rp171 miliar itu datang.
Pendapatan bersih GoTo naik 26 persen secara tahunan menjadi Rp5,34 triliun di kuartal pertama. Gross Transaction Value inti tumbuh 65 persen menjadi Rp138 triliun. Angka-angka ini kuat. EBITDA disesuaikan mencapai Rp907 miliar. Ini bukan laba tipis — ini akselerasi margin yang nyata setelah bertahun-tahun membukukan kerugian.
Tapi model bisnis GoTo bergantung pada komisi yang diambil dari mitra pengemudi ojol dan merchant. Selama ini, potongan bisa mencapai sekitar 20 persen atau lebih. Presiden Prabowo menandatangani Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2026 yang membatasi potongan maksimum menjadi 8 persen. Selisihnya — lebih dari 10 poin persentase — langsung memukul proyeksi pendapatan GoTo ke depan.
Investor tidak menjual karena laba kuartal pertama. Investor menjual karena regulasi baru ini berpotensi membalikkan tren yang baru saja terbentuk. Laba Rp171 miliar dihasilkan di bawah struktur komisi lama. Kuartal berikutnya akan beroperasi di bawah batas 8 persen. Berapa banyak dari laba itu yang akan hilang, belum ada angka pastinya — dan itulah yang membuat pasar tidak nyaman.
Di sinilah masuknya Danantara justru memperumit kalkulasi. Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad menyatakan Danantara membeli saham GoTo di pasar sekunder untuk memastikan kebijakan potongan 8 persen bisa dijalankan. Artinya, masuknya pemerintah bukan sebagai investor pasif yang mencari return finansial — melainkan sebagai penegak kebijakan yang kepentingannya berbeda dengan pemegang saham minoritas.
Analis dari Indonesia Strategic and Economic Action Institution mencatat bahwa intervensi Danantara ini memunculkan spekulasi merger antara GoTo dan Grab. Jika merger terjadi, potensi monopoli di pasar transportasi online Indonesia akan sangat besar — dan itu membawa risiko regulasi antitrust berikutnya. Pasar belum bisa mengukur skenario ini, dan ketidakpastian itu mendorong keluar terlebih dahulu.
GoTo sendiri menyatakan masih mengkaji dampak aturan potongan 8 persen. Artinya bahkan manajemen belum punya jawaban pasti. Ketika perusahaan yang baru saja laba pertama kali tidak bisa menjelaskan dampak regulasi terhadap model bisnisnya, pasar memilih satu langkah: keluar.
Titik Kritis yang Perlu Diawasi
Pertanyaan yang tersisa adalah apakah penurunan hari ini sudah mencerminkan semua risiko, atau baru permulaan.
Ada preseden historis yang relevan. Pada 2019, ketika pemerintah Malaysia membatasi komisi platform ride-hailing secara drastis, saham Grab di bursa regional ikut tertekan selama berminggu-minggu sebelum akhirnya rebound setelah perusahaan menunjukkan kemampuan adaptasi model bisnis. Di Indonesia, regulasi serupa pernah diterapkan pada tarif taksi online pada 2017 dan memang memerlukan waktu beberapa kuartal sebelum platform menemukan ekuilibrium baru antara kepatuhan regulasi dan profitabilitas.
Yang berbeda kali ini adalah GoTo baru saja menyentuh profitabilitas pertama kali — bukan dari posisi yang sudah kuat. Margin maneuver-nya lebih sempit. Dan masuknya Danantara sebagai pemegang saham dengan agenda kebijakan yang jelas menambah dimensi yang tidak ada di kasus Grab Malaysia dulu.
Untuk skenario pemulihan, ada dua kondisi yang perlu terpenuhi. Pertama, GoTo harus menunjukkan di kuartal kedua bahwa kenaikan volume transaksi cukup mengkompensasi penurunan komisi per transaksi — angka GTV Rp138 triliun di kuartal pertama menjadi baseline yang harus dilampaui secara signifikan. Kedua, rincian implementasi Perpres Nomor 27 perlu memberikan ruang transisi yang memadai — jika ada fase penyesuaian bertahap, tekanan terhadap margin tidak akan terjadi sekaligus.
Untuk skenario penurunan berlanjut, kondisinya lebih sederhana: jika kuartal kedua menunjukkan EBITDA yang lebih rendah dari Rp907 miliar tanpa penjelasan yang meyakinkan, kepercayaan bahwa GoTo bisa mempertahankan laba akan runtuh.
Rupiah yang masih melemah di kisaran Rp17.377 per dolar AS juga menjadi beban tambahan, karena sebagian biaya teknologi GoTo berdenominasi dolar.
Bukti yang perlu dicermati besok adalah apakah ada akumulasi asing pada saham GOTO di level gocap — net buy dari institusi asing setelah ARB adalah sinyal bahwa pasar menganggap harga sudah mencerminkan semua risiko. Jika tidak ada, penjualan bisa berlanjut hingga ada kejelasan resmi dari GoTo tentang proyeksi dampak regulasi komisi 8 persen.
Perusahaan yang baru pertama kali laba seharusnya menjadi kabar baik. Tapi jika model bisnis yang menghasilkan laba itu langsung diubah oleh regulasi, apakah laba berikutnya masih mungkin?