GOTO di Rp50 Pasca-Komisi 8%|Model Bisnis Ojol Bisa Bertahan?

· IHSG

Bab 1: Gojek Pangkas Komisi, Saham GOTO Tak Bergerak dari Rp50

PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk resmi memangkas komisi aplikasi dari 20% menjadi 8% untuk layanan GoRide sejak 1 Juli 2026, sesuai Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2026.

Namun, alih-alih disambut reli, saham GOTO masih tertidur di level gocap Rp50 per saham.

Paradoksnya ada di sini: kebijakan yang dirancang untuk menyejahterakan driver justru memindahkan beban fiskal secara penuh ke neraca GOTO — dan pasar belum tahu seberapa dalam lukanya.

Titik tekanannya bukan pada niat regulasi, melainkan pada satu variabel yang belum terjawab: apakah segmen GoTo Financial cukup kuat menutup margin ODS yang terkikis, sebelum evaluasi MSCI Agustus 2026 memperburuk posisi saham ini.

Pertanyaan inilah yang memaksa holder dan calon investor GOTO mengambil posisi berbeda hari ini, tanpa peta yang jelas.

Bab 2: EBITDA ODS Dipangkas 63% — Tapi Hanya 7% dari Pendapatan GOTO

BRI Danareksa Sekuritas memangkas target harga GOTO dari Rp80 menjadi Rp70, dengan estimasi EBITDA bisnis On Demand Services (ODS) tahun 2027 akan anjlok 63% — dari proyeksi Rp1,8 triliun menjadi hanya Rp672 miliar.

Angka ini terdengar fatal. Namun, mekanismenya lebih sempit dari yang terlihat.

Perpres No. 27/2026 hanya membatasi komisi untuk layanan angkutan penumpang roda dua (GoRide), tidak mencakup GoFood, pengantaran barang, atau taksi online. Menurut UOB Kay Hian Sekuritas, layanan roda dua diperkirakan hanya menyumbang sekitar 7% dari total pendapatan bersih GOTO.

Di sinilah perbedaan analis menjadi tajam: BRI Danareksa memandang tekanan ini bersifat struktural dan permanen terhadap profitabilitas ODS, lalu merevisi Adjusted EBITDA Grup turun 12%–24,2%. Sebaliknya, UOB Kay Hian mempertahankan rekomendasi buy dengan target Rp78 — 56% di atas harga pasar saat ini — karena menilai dampak terbatas selama regulasi tidak diperluas ke roda empat dan GoFood.

Konflik proyeksi ini bukan soal data yang berbeda, melainkan asumsi berbeda tentang satu skenario: apakah pemerintah akan memperluas Perpres ke seluruh layanan ODS.

Itulah variabel yang belum terjawab, dan itulah yang membuat keputusan holder hari ini menjadi tidak trivial.

Bab 3: Driver Tidak Ikut Untung — Asumsi yang Salah dari Awal

Di balik perdebatan analis, ada paradoks yang lebih dalam yang tidak masuk ke dalam model valuasi manapun.

Regulasi ini dirancang untuk menaikkan pendapatan driver. Namun sejak 1 Juli 2026, pengemudi di lapangan melaporkan pendapatan bersih mereka nyaris stagnan.

Ketua Serikat Pekerja Angkutan Indonesia (SPAI) Lily Pujiati menyebut total potongan yang diterima pengemudi masih berkisar 16%–24% karena adanya komponen biaya aplikasi dan asuransi perjalanan di luar komisi utama yang tidak diatur Perpres.

Peneliti IGPA UGM Arif Novianto mengkonfirmasi: "Penurunan potongan jadi 8 persen hanya berlaku di layanan antar-penumpang dengan motor, layanan antar-makanan, paket atau barang, dan taksi online tidak termasuk, sehingga potongannya tetap di atas 20 persen."

Ini adalah asumsi yang salah sejak awal: pasar harga saham GOTO merespons kebijakan ini seolah-olah ia adalah biaya murni bagi platform — padahal kebijakan ini juga gagal memberikan manfaat nyata bagi driver, yang berarti potensi kewajiban regulasi lanjutan tetap terbuka.

Jika driver tetap tidak sejahtera, tekanan politik untuk memperluas cakupan Perpres ke GoFood dan layanan lain akan terus ada.

Holder GOTO tidak sedang menanggung tekanan satu regulasi yang selesai. Mereka menanggung risiko eskalasi regulasi yang belum memiliki titik akhir yang jelas.

Bab 4: Buyback Rp3,5 Triliun vs Risiko MSCI — Peta Keputusan

GOTO memiliki dua bantalan nyata yang membedakannya dari emiten yang sekadar terdampak regulasi.

Pertama, posisi kas Rp23,8 triliun dengan utang bersih negatif. Kedua, program buyback senilai Rp3,5 triliun yang disetujui pemegang saham untuk periode Juni 2026 hingga Juni 2027 — dengan manajemen berencana menjalankannya secara lebih agresif.

GoTo Financial tetap menjadi penopang profitabilitas grup yang tidak tersentuh regulasi ojol ini, dengan proyeksi kontribusi EBITDA yang semakin besar sepanjang 2026–2028.

Namun, satu risiko negatif konkret sedang mendekat: evaluasi indeks MSCI pada Agustus 2026. Jika GOTO dikeluarkan, arus keluar dana pasif global akan memperburuk posisi saham yang sudah di level Rp50.

Ini adalah peta keputusan yang sesungguhnya.

Bagi pemegang saham GOTO saat ini: pertanyaan bukan apakah komisi 8% mematikan bisnis ini — GoTo Financial memberikan bantalan yang cukup. Pertanyaannya adalah apakah Perpres akan diperluas ke GoFood sebelum buyback memiliki efek nyata di pasar. Jika regulasi berhenti di GoRide dan buyback berjalan agresif, tekanan yang ada hari ini berubah menjadi setup entry yang menarik.

Bagi yang belum masuk: katalis masuk yang paling terukur bukan reli harga, melainkan ketidakluarnya GOTO dari indeks MSCI Agustus 2026 — itu sinyal bahwa tekanan arus keluar asing mereda dan harga Rp50 menjadi lantai yang terkonfirmasi, bukan jebakan.

Jika sebaliknya GOTO dikeluarkan dari MSCI dan Perpres diperluas ke GoFood, level Rp50 bukan lantai — ia menjadi langit-langit sementara.

Link copied