GOTO|Laba Pertama, Harga Tetap Gocap
Gocap yang Tak Kunjung Bergerak
GoTo Gojek Tokopedia, dengan kode saham GOTO, hari ini melaporkan kinerja keuangan semester pertama 2026. Namun perhatian pasar sesungguhnya sudah tertuju pada satu angka yang aneh, harga sahamnya bertahan di level Rp50, level gocap, sejak 5 Mei 2026 hingga hari ini. Menjelang pengumuman laporan, antrean jual saham GOTO justru membengkak hingga 245,2 juta lot. Pertanyaannya sederhana, mengapa harga diam di tempat sementara perusahaan baru saja mencatat pencapaian terbesarnya.
Pada kuartal pertama 2026, GOTO membukukan laba bersih Rp257,94 miliar, laba pertama dalam sejarah perusahaan sejak berdiri, berbalik dari rugi Rp283,32 miliar setahun sebelumnya. Pendapatan naik 26,25 persen menjadi Rp5,34 triliun, dan adjusted EBITDA melonjak 131 persen menjadi Rp907 miliar. Secara logika pasar, pencapaian semacam ini biasanya mendorong harga naik. Yang terjadi justru sebaliknya, harga tetap terkunci di gocap.
Dari 31 perusahaan sekuritas yang memantau saham ini, sekitar 77 persen merekomendasikan beli, dengan konsensus target harga Rp80 per saham, sekitar 60 persen lebih tinggi dari harga penutupan terakhir. Maybank, UOB Kay Hian, dan BRI Danareksa merekomendasikan buy dengan target Rp70 hingga Rp80. Namun di saat bersamaan, Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2026 yang membatasi komisi aplikator ojek online maksimal 8 persen dinilai berpotensi menekan kinerja GOTO ke depan. Pasar sedang menimbang dua kekuatan yang saling berlawanan, optimisme analis di satu sisi, dan tekanan regulasi di sisi lain.
Antara Skala Bisnis dan Tekanan Regulasi
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta Utama, menilai kebijakan penurunan batas komisi menjadi 8 persen berpotensi menekan take rate dalam jangka pendek, sehingga pendapatan per transaksi bisa berkurang. Namun ia menambahkan, apabila kebijakan itu justru meningkatkan jumlah mitra aktif dan memperbesar volume transaksi, tekanan terhadap pendapatan berpotensi tertutupi oleh pertumbuhan skala bisnis. Ini bukan kesimpulan pasti, melainkan syarat bersyarat, hasil akhirnya bergantung pada respons perilaku jutaan mitra pengemudi.
Nafan menegaskan, perhatian pasar kini bergeser, tidak lagi hanya tertuju pada pertumbuhan gross transaction value, tetapi juga kualitas pendapatan, adjusted EBITDA, arus kas operasional, dan kemampuan perusahaan menjaga profitabilitas di tengah persaingan industri. Artinya, laporan semester pertama hari ini akan diuji bukan dari apakah GOTO untung, tapi apakah keuntungan itu bisa bertahan, sebuah standar yang jauh lebih ketat dibanding kuartal sebelumnya.
Menariknya, manajemen GOTO sendiri tampak berhati-hati. Presiden Direktur dan Group CEO GOTO, Hans Patuwo, mengatakan perseroan mencapai adjusted EBITDA Rp907 miliar pada kuartal pertama, namun memilih untuk konservatif dan tidak menaikkan panduan di tengah ketidakpastian ekonomi makro. Sikap ini menjadi indikasi bahwa manajemen sendiri belum sepenuhnya yakin momentum laba dapat dipertahankan tanpa gangguan dari kebijakan komisi yang baru berjalan sejak 1 Juli 2026.
Likuiditas Menyusut, Status Indeks Bertahan
Ada lapisan lain yang membuat gambaran ini semakin rumit. Bursa Efek Indonesia menjelaskan bahwa saham GOTO masih bertahan dalam konstituen indeks utama seperti LQ45, IDX30, dan IDX80, meskipun aktivitas transaksinya melambat dalam beberapa bulan terakhir. Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, Irvan Susandy, menyatakan evaluasi konstituen tetap mengacu pada metodologi yang berlaku tanpa perubahan kriteria. Bagi investor pasif yang mengikuti indeks, ini berarti eksposur ke GOTO tetap dipertahankan, terlepas dari perdebatan soal arah harganya.
Direktur Purwanto Asset Management, Edwin Sebayang, membandingkan nasib emiten teknologi hasil IPO jumbo. Ia menilai GOTO telah memasuki babak baru dengan fokus pada profitabilitas, meski masih menghadapi tantangan menjaga pertumbuhan di tengah ketatnya persaingan dengan Grab, ShopeeFood, dan TikTok. Perbandingan ini menegaskan bahwa cerita GOTO bukan sekadar soal untung atau rugi satu kuartal, melainkan soal apakah perusahaan bisa mengonversi laba perdana menjadi keunggulan kompetitif yang tahan lama.
Semua elemen ini bertemu pada satu titik, laporan keuangan semester pertama yang dirilis hari ini. Bagi pemegang saham yang bertahan di gocap sejak Mei, laporan ini adalah ujian apakah laba kuartal pertama adalah awal tren atau sekadar momen sesaat sebelum tekanan Perpres 8 persen terasa penuh mulai kuartal ketiga. Bagi yang belum masuk, kesenjangan antara konsensus target Rp80 dan harga Rp50 tetap menjadi daya tarik sekaligus tanda tanya, sebab pasar belum menunjukkan keyakinan yang sama besarnya dengan para analis. Sampai konsistensi profitabilitas terbukti melewati dampak penuh kebijakan komisi baru, harga yang tertahan di gocap kemungkinan akan terus mencerminkan keraguan itu, bukan optimisme di atas kertas.
- [katadata.co.id] Pasar Tunggu Konsistensi Profitabilitas GOTO usai Perpres 8%, Akankah…
- [investor.id] GOTO Terus Terang soal Saham - Lotus Andalan Sekuritas
- [market.bisnis.com] BEI Buka Alasan GOTO Masih Bertahan di LQ45, IDX30 dan IDX80 Meski Lik…
- [market.bisnis.com] Rapor IPO Jumbo RI: Beda Nasib Saham BUKA, GOTO, MTEL, hingga AMMN - B…
- [rm.id] Dasco Sebut Perpres Ojol Tinggal Finalisasi, Rapat Penentu Digelar Pek…