GOTO & WIFI di Tengah Rate Hike|Siapa yang Masih Dibeli?

· IHSG

IHSG Anjlok Meski BI Naikkan Rate

Ketika Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan 50 basis poin menjadi 5,25% pekan lalu — kenaikan pertama sejak Oktober tahun lalu — pasar seharusnya membaca langkah itu sebagai sinyal stabilisasi. Yang terjadi justru sebaliknya: IHSG ditutup melemah 1,23% ke 6.130 pada Selasa 26 Mei, dengan nilai transaksi Rp17,98 triliun dan 461 saham terkoreksi.

Kenaikan BI Rate tidak membendung tekanan. Alasannya bukan karena 50 bps terlalu kecil secara teknis, melainkan karena kenaikan itu mengkonfirmasi sesuatu yang lebih mencemaskan bagi investor: rupiah di Rp17.789 per dolar AS sudah melampaui level yang bisa dijelaskan oleh seasonality dividen semata.

LPEM UI mencatat FDI inflow Indonesia jauh tertinggal dari Malaysia 22%, India 44%, Thailand 31% di tahun yang sama. Ini bukan gap siklus — ini gap kepercayaan. Foreign positioning di IHSG tidak menunggu kenaikan rate berikutnya; mereka menunggu sinyal fiskal yang berbeda dari yang ada sekarang.

Sektor yang paling tertekan mencerminkan logika ini secara langsung. Industri turun 3,38%, barang konsumen primer 2,2%, keuangan 1,52% — tiga sektor dengan eksposur terbesar terhadap capital outflow dan credit cycle. Sementara itu, infrastruktur naik 0,18% dan teknologi naik 0,08%.

Dua sektor minor yang menguat itu bukan anomali. Mereka adalah petunjuk ke mana domestic institutional positioning bergerak ketika tekanan rate tinggi membuat sektor defensif mahal dan sektor growth murni menjadi satu-satunya justifikasi ekuitas.

Pertanyaan yang ditinggalkan oleh gerakan ini: jika foreign net selling terus berlanjut bahkan setelah rate hike, apakah ada katalis domestik yang cukup besar untuk menyerap tekanan itu dari dalam?

IRA 100 Mbps: Growth Anchor atau Noise?

PT Solusi Sinergi Digital (WIFI) meluncurkan Internet Rakyat — IRA — pada 26 Mei 2026, menawarkan koneksi 100 Mbps seharga Rp100.000 per bulan di 82 kota, dengan 550 site aktif dan 3.189 radio unit yang sudah beroperasi. Hashim Djojohadikusumo menyebut ini "game changer" yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi 7–8%.

Klaim itu bukan tanpa basis empiris. McKinsey mencatat setiap 10% populasi yang terhubung internet murah menambah pertumbuhan GDP 0,7–1,3% per tahun. Dengan target 5 juta pelanggan tahun ini, IRA berpotensi menjadi salah satu ekspansi infrastruktur digital terbesar yang pernah diluncurkan secara serentak di Indonesia.

Yang membuat peluncuran ini relevan untuk portofolio bukan klaimnya — tapi timingnya. WIFI diluncurkan di tengah hari di mana sektor teknologi IHSG naik 0,08% saat semua sektor lain merah. Domestic institutional yang keluar dari sektor industri dan keuangan hari ini perlu menemukan ekuitas dengan growth story yang tidak tergantung pada rate environment.

IRA menawarkan justifikasi itu: pendapatan berbasis subscription, tidak sensitif terhadap siklus kredit, dan didukung oleh ekosistem mitra vendor global — Huawei, NTT, Nokia, Fiberhome. Ini bukan play spekulatif; ini adalah infrastructure equity yang baru saja mendapatkan revenue visibility pertamanya dari peluncuran komersial nyata.

Namun IRA juga memasuki pasar di momen ketika GOTO — ekosistem digital terbesar Indonesia — baru saja mengumumkan laba bersih pertamanya Rp258 miliar di Q1 2026, naik 131% adjusted EBITDA yoy, tetapi analis KB Valbury memperkirakan rugi bersih masih berlanjut hingga 2027 karena regulasi komisi ride-hailing maksimal 8% akan memotong ODS take rate 170 bps.

Dua sinyal digital yang berlawanan muncul di hari yang sama: GOTO mulai profitable tapi dihadang regulasi, WIFI meluncurkan skala besar tapi belum teruji. Domestic institutional tidak bisa masuk ke keduanya sekaligus — mereka harus memilih mana yang price-in-nya lebih bersih.

Yang tersisa adalah pertanyaan tentang risiko yang belum terdiskon: apakah expansion IRA bebas dari jenis regulatory headwind yang sama yang sekarang menghantam GOTO?

DSI dan Premium Risiko yang Belum Terdiskon

Pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia sebagai BUMN pengawas ekspor komoditas SDA mendapat respons yang terbelah di pasar. Pelaku industri tidak menolak prinsipnya — mereka menolak ketidakjelasan tata kelolanya. Ekonom Senior INDEF Didik Rachbini menyebut risiko nyata bukan pada niat monopoli, tapi pada desain kelembagaan: "Jika aturan dirancang dengan buruk, maka niat baik dari peran negara yang lebih besar justru akan menjadi sumber rente baru."

Ini adalah sinyal yang jarang muncul dalam pasar Indonesia — pernyataan risiko kebijakan yang eksplisit dari ekonom senior, di hari yang sama IHSG jatuh. Biasanya risiko kebijakan masuk sebagai tekanan implisit dalam aliran asing; hari ini ia muncul sebagai kutipan resmi yang bisa diprice.

Foreign positioning di sektor SDA — energi turun 1,04%, bahan baku turun 0,89% — mencerminkan dua tekanan sekaligus: rate environment global yang menekan emerging market commodity equities, dan policy risk premium domestik yang naik karena ketidakpastian DSI.

Saham-saham Prajogo yang justru bangkit di tengah koreksi umum hari ini menunjukkan bahwa domestic institutional melakukan selective rotation — keluar dari emiten dengan eksposur DSI yang tidak jelas, masuk ke konglomerat yang dianggap memiliki akses kebijakan lebih terstruktur.

Sektor infrastruktur yang naik 0,18% dan teknologi 0,08% di hari IHSG turun 1,23% bukan kebetulan. Ini adalah peta capital flow yang terbaca: domestic institutional menjauhi SDA policy uncertainty dan rate-sensitive sector, masuk ke digital infrastructure yang regulasinya — untuk saat ini — lebih terprediksi dari DSI.

Monitoring variable yang menentukan apakah rotation ini berlanjut adalah detail operasional DSI yang dijadwalkan dirilis dalam beberapa pekan ke depan. Jika mekanisme pengawasan ekspor terbukti transparan dan tidak menciptakan single-gate rent, premium risiko itu akan terlepas dan sektor SDA bisa menjadi target reentry. Jika sebaliknya — jika akses ekspor terkonsentrasi pada segelintir pihak — maka foreign yang sudah keluar dari sektor energi dan bahan baku tidak akan kembali hanya karena BI Rate sudah di 5,25%.

Link copied