IHSG 1,22% Juara Asia|Rupiah Cetak Rekor Terlemah
Dua Sinyal yang Seharusnya Tidak Bisa Berdampingan
Pada hari yang sama rupiah mencetak level penutupan terlemah sepanjang sejarah di Rp17.424 per dolar AS, IHSG melonjak 1,22 persen ke posisi 7.057 dan menjadi indeks dengan kenaikan tertinggi di seluruh kawasan Asia. Kedua hal ini terjadi dalam satu sesi. Bukan satu jam, bukan bergantian — bersamaan.
Lazimnya, ketika mata uang suatu negara melemah tajam, pasar modalnya ikut tertekan. Modal asing keluar, biaya impor naik, dan investor menghindari aset berisiko. Vietnam naik 1,12 persen, Malaysia naik 0,44 persen, Taiwan naik 0,16 persen — semua di bawah Jakarta. Namun rupiah Indonesia justru menjadi yang paling tertekan di kawasan, melemah 0,17 persen dari hari sebelumnya dan memperpanjang tren pelemahan lima hari beruntun.
Pertanyaan yang mengalir sepanjang hari perdagangan Selasa kemarin: apa yang sebenarnya sedang diharga oleh pasar saham Indonesia?
Pagi hari IHSG dibuka melemah ke 6.968. Konflik di Timur Tengah semakin memanas — AS menyatakan telah menenggelamkan kapal Iran di Selat Hormuz, sementara Presiden Trump memperingatkan Iran akan "dihapus dari muka bumi." Harga minyak naik, indeks global merah, dan rupiah sudah berada di atas Rp17.400. Semua sinyal menunjuk ke satu arah: turun.
Kemudian pukul 11.00 WIB, Badan Pusat Statistik mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026 mencapai 5,61 persen secara tahunan — melampaui semua perkiraan pasar dan menjadi ekspansi tercepat sejak kuartal III-2022. Konsumsi rumah tangga tumbuh 5,52 persen, belanja pemerintah melonjak 21,81 persen. IHSG berbalik arah dalam hitungan menit, kemudian melesat.
Namun data GDP bukan satu-satunya faktor. Ada satu kekuatan yang jauh lebih langsung di balik longsoran angka itu.
Mengapa Rupiah Lemah Justru Menjadi Bahan Bakar Saham
Saham yang paling mendorong IHSG hari ini bukan saham bank, bukan saham konsumer — melainkan saham-saham milik Prajogo Pangestu yang seluruh pendapatannya berbasis dolar AS. Barito Pacific (BRPT) melesat hingga batas auto reject atas, naik 24,66 persen ke Rp2.300, dan sendirian menyumbang 25,6 poin ke IHSG. Chandra Asri Pacific (TPIA) naik 19,7 persen dan berkontribusi 20,67 poin. Petrindo Jaya Kreasi (CUAN) dan Barito Renewables Energy (BREN) masing-masing menambahkan 5,6 dan 4,8 poin.
Inilah mekanisme yang jarang terlihat dengan jelas: ketika rupiah melemah, perusahaan yang mengantongi pendapatan dolar mendapatkan keuntungan berganda. Setiap dolar yang mereka terima kini bernilai lebih banyak rupiah. Margin naik otomatis, tanpa perubahan operasional apapun. BRPT sebagai induk Barito Pacific bergerak di bisnis petrokimia dan energi — segmen yang harganya mengikuti pasar global dalam denominasi dolar.
Sektor finansial juga berkontribusi signifikan dengan kenaikan 2,36 persen. Setelah tertekan selama beberapa pekan, saham BBRI naik 4 persen dan menjadi salah satu saham yang paling banyak diakumulasi investor asing dengan nilai beli Rp259 miliar hanya dalam sesi pertama. BBCA naik dan menyumbang transaksi tertinggi kedua di pasar dengan nilai jual-beli Rp2,25 triliun. Sektor bahan baku mencatat kenaikan 5,55 persen, menjadi penopang terbesar.
Namun ada sisi lain yang menekan. Saham nikel anjlok — INCO turun 8 persen, ANTM turun 3,42 persen, MDKA turun 2,81 persen. Penyebabnya bukan permintaan yang melemah, melainkan rencana pemerintah menerapkan bea keluar dan windfall tax pada komoditas nikel dan batu bara untuk menutup tekanan APBN akibat lonjakan harga energi global. Pengenaan dua instrumen fiskal baru secara serentak pada sektor yang sedang mencatat margin tinggi menciptakan ketidakpastian yang langsung dihukum pasar.
Dan di sinilah beban sesungguhnya dari situasi hari ini: kenaikan IHSG ditopang oleh saham-saham yang diuntungkan oleh rupiah lemah, bukan oleh membaiknya kondisi fundamental yang merata. Jika rupiah tiba-tiba menguat kembali — katakanlah karena intervensi Bank Indonesia yang lebih agresif atau de-eskalasi konflik Timur Tengah — basis kenaikan hari ini justru akan tergerus.
Antara Data yang Kuat dan Mata Uang yang Terus Jatuh
Capaian pertumbuhan 5,61 persen kuartal I-2026 adalah sinyal yang tidak bisa diabaikan. Ini bukan pertumbuhan biasa — ini ekspansi yang datang di tengah tekanan eksternal, didorong oleh konsumsi domestik, percepatan belanja fiskal melalui program Makan Bergizi Gratis, dan momentum Ramadan-Idulfitri. Ekonom dari PermataBank mencatat bahwa ini adalah pertumbuhan terkuat sejak kuartal III-2022. Indonesia bahkan mengalahkan laju pertumbuhan China dan AS dalam periode yang sama.
Namun angka itu tidak memperbaiki nilai tukar. Rupiah tetap di Rp17.424 saat sesi berakhir.
Ekonom dari INDEF menegaskan bahwa kondisi fundamental rupiah yang sesungguhnya — dengan melihat inflasi yang terjaga, neraca dagang yang masih surplus, dan cadangan devisa yang memadai — seharusnya berada di kisaran Rp16.500 hingga Rp16.900 per dolar AS. Artinya ada selisih sekitar Rp500 hingga Rp900 yang tidak dijelaskan oleh data ekonomi. Selisih itu adalah premi risiko — pasar meminta bayaran lebih mahal untuk memegang aset rupiah, terlepas dari seberapa baik angka pertumbuhannya.
Tekanan itu datang dari beberapa arah sekaligus. Konflik Iran-AS di Selat Hormuz mendorong arus modal ke aset aman seperti dolar dan emas — imbal hasil US Treasury 10 tahun naik ke 4,456 persen, mempersempit selisih dengan yield SBN Indonesia. Musim pembayaran dividen kuartal II dan kebutuhan valas untuk musim haji menambah permintaan dolar secara struktural. Bank Indonesia memang telah mengintervensi — di pasar spot, DNDF, dan pasar sekunder SBN — namun analis dari Kiwoom Sekuritas mencatat bahwa intervensi BI terkesan tidak masif, mengingat cadangan devisa tidak bisa dihabiskan begitu saja ketika harga minyak tetap di atas US$100 per barel.
Skenario terburuk yang disebutkan oleh analis HFX International: jika eskalasi militer di Timur Tengah meluas menjadi konflik regional penuh yang menghentikan aliran logistik minyak dunia, rupiah bisa menguji level psikologis Rp17.800 hingga Rp18.000. Pada titik itu, risiko bukan lagi pada nilai tukar — melainkan pada stabilitas pasar modal secara keseluruhan.
Di sisi lain, ada kondisi yang bisa membalikkan tekanan ini. Data ketenagakerjaan AS yang akan dirilis dalam waktu dekat menjadi penentu penting: jika angkanya lemah, pasar akan kembali memperkirakan pemangkasan suku bunga The Fed, dan dolar akan melemah. Ketika itu terjadi, rupiah yang saat ini dinilai terlalu murah dibanding fundamentalnya punya ruang pemulihan yang cukup besar — dan saham-saham yang hari ini naik karena dolar kuat justru akan menghadapi tekanan rotasi.
IHSG hari ini menutup sesi di posisi tertinggi Asia. Tapi kenaikan itu dibangun di atas dua pondasi yang saling bertentangan — data domestik yang kuat di satu sisi, dan rupiah yang terus mencari dasar di sisi lain. Selama dua kekuatan ini belum selesai bernegosiasi, arah berikutnya bergantung pada satu angka: apakah data tenaga kerja AS Jumat ini akan memberi sinyal yang cukup kuat untuk mengubah ekspektasi suku bunga The Fed. Jika tidak, tekanan pada rupiah berlanjut — dan pertanyaan yang perlu dijawab adalah berapa lama saham eksportir bisa menopang IHSG sendirian.