IHSG -3,46% Terburuk di Asia|Sidak DPR dan Danantara Justru Percepat Koreksi?

· IHSG

Sesi yang Membuktikan Sinyal Bukan Sinyal

Tiga pejabat senior mendarat di lantai Bursa Efek Indonesia hari ini — Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco, CEO Danantara Rosan Roeslani, dan Ketua OJK Friderica Widyasari Dewi. Kunjungan itu seharusnya menjadi sinyal kepercayaan. Yang terjadi setelah mereka masuk gedung BEI, IHSG justru terjun lebih dalam.

Pada sesi pertama, IHSG sudah melemah 3,08 persen ke level 6.396. Ketika sidak berlangsung dan pernyataan optimisme disampaikan dari podium, indeks tidak berhenti — ia melanjutkan tekanan hingga ditutup di 6.370,68, turun 3,46 persen dan menjadi yang terburuk di antara seluruh bursa Asia hari ini. Bursa Tokyo, Seoul, dan Hong Kong justru ditutup di zona hijau. IHSG berdiri sendirian di merah gelap.

Sebanyak 647 saham melemah, hanya 117 menguat. Nilai transaksi mencapai Rp25,62 triliun — jauh di atas rata-rata — menandakan bukan pasar yang sepi, melainkan pasar yang aktif menjual. Sektor barang baku anjlok 7,30 persen, sektor energi jeblok 6,94 persen, dan sektor transportasi turun 6,58 persen. Hanya sektor kesehatan yang bertahan di zona positif, itupun tipis 0,55 persen.

Tekanan terbesar datang dari saham-saham yang dikeluarkan dari indeks MSCI dan kini terancam FTSE. TPIA (Chandra Asri Pacific) menekan indeks 11,21 poin, AMMN (Amman Mineral) 12,82 poin, MORA (Ekamas Mora Republik) memimpin dengan tekanan 16,67 poin. Bersamaan, BYAN (Bayan Resources) turun dan menyeret sektor batu bara. Rupiah mencetak rekor terlemah sepanjang sejarah di Rp17.706 per dolar AS — bukan sekadar level psikologis, melainkan titik yang belum pernah dicapai sejak republik ini berdiri.

Tapi inilah yang belum terjawab: mengapa pasar justru mempercepat penjualan tepat saat otoritas paling senior muncul dan menyatakan pasar masih aman?

Ketika Intervensi Sinyal Menjadi Sinyal Berlawanan

Bos OJK menyebut koreksi IHSG "masih wajar" dan "bursa lain turunnya lebih dalam" — namun data tidak mendukung klaim itu untuk hari ini. Dasco menyatakan keyakinannya IHSG akan menguat setelah 29 Mei. Rosan menegaskan saham bank BUMN masih menarik dengan yield di atas 10 persen. Semua pernyataan itu keluar di tengah sesi yang sedang berjalan — dan pasar merespons dengan menambah tekanan jual, bukan menghentikannya.

Mekanisme di balik ini bukan irasional. Ketika pejabat senior datang ke bursa di tengah koreksi tajam, pasar institusional membaca sinyal itu sebagai konfirmasi bahwa kondisi memang sudah cukup parah untuk memerlukan kunjungan darurat. Sebuah kunjungan yang dimaksudkan sebagai penenang justru mengkonfirmasi kegawatan yang sudah dirasakan. Dana asing tidak berhenti keluar hanya karena ada pernyataan lisan — mereka membutuhkan angka fundamental yang berubah, bukan kehadiran pejabat.

Kemenkeu sendiri mengakui kendala serupa. Purbaya menargetkan penyerapan Surat Berharga Negara senilai Rp2 triliun per hari untuk menstabilkan pasar obligasi dan rupiah. Realisasinya baru Rp600 miliar — bukan karena kurang agresif, tapi karena penjual di pasar pun sedikit. Artinya pasar bukan panik yang bisa diredam dengan likuiditas; pasar menunggu sesuatu yang lebih fundamental.

FTSE Russell telah mengumumkan bahwa saham-saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi — kategori HSC — berpotensi dihapus dari indeks pada tinjauan Juni 2026 dengan harga nol. BEI mengakui ini sebagai konsekuensi yang harus diterima. Konsekuensi itu sekarang sedang dihitung ulang oleh fund manager global yang mengikuti indeks FTSE, dan hitungan itu menghasilkan arus keluar, bukan masuk.

Yang membuat posisi ini rumit: BI Rate belum diputuskan. Konsensus Bloomberg memperkirakan kenaikan ke 5 persen dalam Rapat Dewan Gubernur yang hasilnya diumumkan besok. Jika BI menaikkan suku bunga untuk membela rupiah, beban fiskal pemerintah meningkat di saat defisit sudah tertekan. Jika BI menahan, rupiah bisa menembus level baru dan asing terus keluar dari SBN.

29 Mei Sebagai Batas — Tapi Batas untuk Apa?

Dasco menyebut tanggal 29 Mei sebagai titik di mana hasil reformasi pasar modal akan mulai terlihat. Tanggal itu kini menjadi penanda yang diawasi pasar — bukan sebagai janji pemulihan, melainkan sebagai batas waktu yang jika dilewati tanpa sinyal konkret, akan dikonfirmasi sebagai momentum yang gagal.

Pola historis ada. Pada 1997-1998, pemerintah dan otoritas berulang kali mengeluarkan pernyataan stabilisasi saat IHSG dan rupiah terus tertekan — setiap sinyal verbal tanpa anchor kebijakan justru mempercepat ketidakpercayaan. Yang akhirnya membalikkan arah adalah perubahan fundamental: restrukturisasi utang, program IMF, dan perombakan kebijakan suku bunga yang kredibel. Hari ini bukan 1998 — cadangan devisa RI masih kuat, sistem perbankan lebih sehat — namun mekanisme psikologi pasar terhadap intervensi sinyal bekerja dengan logika yang sama.

Kondisi untuk pembalikan tersedia secara teori. Jika BI besok menaikkan suku bunga disertai komunikasi yang jelas bahwa langkah ini adalah keputusan berbasis data bukan defensif reaktif, yield SBN yang lebih tinggi bisa menarik kembali dana asing ke pasar obligasi, memperkuat rupiah, dan mengurangi tekanan jual di ekuitas. Hasil sidang paripurna DPR besok — di mana Prabowo akan menyampaikan kerangka ekonomi makro RAPBN 2027 — juga berpotensi memberikan anchor fiskal yang selama ini absen dari narasi.

Kondisi kelanjutan tekanan sama konkretnya. Jika BI menahan dan data RAPBN 2027 tidak mengandung konsolidasi fiskal yang jelas, forward rupiah akan terus bergerak mendekati Rp18.000, FTSE akan memfinalisasi daftar penghapusan saham HSC pada Juni, dan fund manager pasif yang mengikuti kedua indeks — MSCI dan FTSE — akan menyelesaikan rebalancing mereka dalam posisi yang memperburuk likuiditas saham-saham terdampak.

Pertanyaannya bukan apakah otoritas akan hadir lagi. Pertanyaannya adalah apakah BI besok mengubah angka, atau hanya mengubah kata.

Link copied