IHSG Jatuh 5% lalu Rebound|Siapa yang Beli saat Rupiah Rp17.660?
Sesi yang Tidak Bisa Dijelaskan dengan Satu Narasi
IHSG menyentuh 6.398 pada tengah hari — turun hampir 5% dalam hitungan jam — lalu menutup sesi di 6.599, hanya minus 1,85%. Itu bukan pemulihan biasa. Itu adalah dua pasar berbeda yang beroperasi dalam hari yang sama.
Pemicunya sudah jelas. MSCI pekan lalu mengeluarkan enam saham Indonesia dari indeks globalnya — AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, dan AMRT — dan FTSE Russell menyusul dengan pengumuman penghapusan serupa. Rebalancing passive funds dijadwalkan berlaku setelah penutupan 29 Mei, dan pasar tidak menunggu. Dana asing mulai keluar. Saham-saham HSC berjatuhan. Kepemilikan asing di obligasi pemerintah sudah berada di 12,6%, level terendah sejak 2006. Sepanjang empat bulan pertama 2026, net foreign sell di pasar saham Indonesia mencapai 2,9 miliar dolar.
Di atas tekanan MSCI itu, rupiah tembus Rp17.660 per dolar, all-time low. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dicecar anggota DPR dalam rapat kerja, bahkan secara terbuka disarankan untuk mengundurkan diri. Ekonom CELIOS memperkirakan subsidi BBM dalam APBN bisa membengkak hingga Rp150 triliun jika kurs bertahan di level ini dan harga minyak melewati 100 dolar per barel. Tiga sentimen negatif — MSCI, rupiah, dan sinyal rate hike BI — menghantam pasar dalam waktu bersamaan.
Namun pada sesi siang, sesuatu berubah. Tiga saham blue chip bergerak berlawanan dengan arah pasar.
Tiga Saham yang Membeli Saat Semua Orang Menjual
TLKM naik 4,05% ke Rp3.080. ASII naik 4,35% ke Rp6.000. ITMG naik 4,18% ke Rp24.950. Ketiganya bergerak naik bukan karena ada berita positif yang tiba-tiba muncul, melainkan karena ada pembeli besar yang masuk di harga rendah — dengan volume dan frekuensi yang cukup untuk menahan pelemahan IHSG dari -5% menjadi -1,85%.
Ini penting karena ketiga nama ini mewakili tiga domain yang berbeda: telekomunikasi, konglomerat industri, dan batu bara. Bukan sektoral rally. Bukan rotasi yang terkoordinasi. Ini adalah selective buying yang menargetkan valuasi.
TLKM adalah satu-satunya saham Telkom Group yang bergerak setelah Menteri BUMN Dony Oskaria mengumpulkan Dirut Telkom dan Telkomsel untuk membahas transformasi digital. Narasi transformasi Telkomsel yang sebelumnya tidak direspons pasar tiba-tiba mendapat perhatian ketika sahamnya jatuh ke level yang tidak pernah dilihat sejak beberapa tahun lalu. ASII adalah proxy ekonomi domestik yang paling likuid — ketika turun tajam, institutional buyers sering melihatnya sebagai oversold. ITMG, di sisi lain, justru mendapat dorongan dari kenaikan harga minyak di atas 100 dolar per barel yang dipicu konflik AS-Iran. Rupiah lemah adalah beban bagi importir, tapi berkah bagi eksportir komoditas yang penerimaannya dalam dolar.
Di sinilah persoalannya. Tiga pembeli ini bukan mengatakan bahwa pasar sudah aman. Mereka mengatakan bahwa ada segmen spesifik yang mereka nilai terlalu murah, sementara seluruh pasar sedang dikuasai oleh kepanikan MSCI dan rupiah. Pemulihan IHSG dari -5% ke -1,85% bukan sinyal bahwa tekanan sudah berakhir — itu sinyal bahwa tekanan telah cukup besar untuk memunculkan oportunis di segmen tertentu. Dan oportunis tidak membeli karena kondisi sudah membaik; mereka membeli justru karena kondisi belum membaik.
Yang belum terjawab adalah apakah buying ini cukup besar untuk menahan rebalancing passive funds yang baru akan efektif pada 29 Mei.
29 Mei dan Kondisi yang Menentukan Arah Selanjutnya
Persoalan yang ditinggalkan sesi hari ini adalah ini: jika pembeli yang masuk siang tadi adalah institutional accumulation yang sesungguhnya, IHSG punya dasar untuk stabil. Jika itu hanya short-covering — pembeli yang sebelumnya menjual short dan menutup posisi karena takut penurunan terlalu cepat — maka rally singkat itu tidak punya fondasi, dan tekanan berikutnya akan datang sebelum 29 Mei.
Analoginya ada di Mei 2013, ketika Fed taper tantrum pertama kali diumumkan. IHSG jatuh tajam dalam satu sesi, sempat pulih, lalu melanjutkan penurunan selama beberapa minggu setelah itu karena arus keluar obligasi asing tidak berhenti dalam satu hari. Saat ini, kepemilikan asing di obligasi pemerintah sudah di level terendah sejak 2006 — berbeda dengan 2013 di mana penurunannya baru dimulai. Artinya, sebagian tekanan sudah terserap. Tapi rupiah yang masih di Rp17.660 menunjukkan bahwa proses penyesuaian belum selesai.
Ada dua kondisi yang perlu diperhatikan. Pertama, jika BI benar-benar menaikkan suku bunga — sinyal yang sudah mulai terdengar dari pernyataan "pro stability" — rupiah bisa mendapat dukungan jangka pendek, tapi biaya kredit naik dan saham perbankan seperti BBCA dan BMRI akan menghadapi tekanan tambahan. Kedua, jika harga minyak bertahan di atas 100 dolar per barel, ITMG dan saham energi lain akan terus mendapat permintaan dolar, tapi beban subsidi BBM yang diperkirakan bengkak Rp150 triliun itu akan menjadi tekanan fiskal nyata pada semester kedua.
Tolok ukur yang bisa dicek esok hari: apakah rupiah bisa kembali ke bawah Rp17.600. Jika bisa, ada ruang bagi pasar untuk menstabilkan diri sebelum 29 Mei. Jika rupiah tetap di atas level itu, pembeli yang masuk hari ini akan menghadapi pertanyaan yang sama yang muncul setiap kali rupiah mencetak all-time low baru — apakah mereka membeli terlalu cepat, atau justru pada waktu yang tepat?
- [InvestorTrust] Dikeluarkan dari Indeks Global, Emiten Saham HSC Minta Audiensi dengan…
- [CNBC Indonesia] BEI Terima Audiensi Emiten-emiten yang Masuk Daftar HSC, Ini Daftarnya…
- [ANTARA News] BEI terima audiensi emiten dengan konsentrasi kepemilikan tinggi - ANT…
- [kontan.co.id] Sahamnya Masuk Kategori Kepemilikan Terkonsentrasi Tinggi, Emiten Audi…
- [detikFinance] FTSE Russell Bakal Tendang Saham HSC, Bos BEI Buka Suara - detikFinanc…
- [InvestorTrust] BEI Kaji Ulang Papan Pemantauan Khusus dan Mekanisme FCA - InvestorTru…
- [Bloomberg Technoz] Pelemahan IHSG Menyusut Berkat Saham-saham Ini - Bloomberg Technoz
- [investor.id] IHSG Anjlok, Saham-saham Ini Justru Melonjak - investor.id
- [Katadata.co.id] IHSG Melorot ke Level 6.599, Saham Konglomerat DSSA, TPIA dan CUAN Top…
- [kontan.co.id] IHSG Berpeluang Teknikal Rebound pada Selasa (19/5), Ini Proyeksi Anal…
- [ANTARA News] IHSG ditutup melemah dipicu sikap investor beralih ke aset aman - ANTA…
- [pasardana.id] Ditutup di Level 6.599, IHSG Senin Melemah -1,85 Persen - pasardana.id