IHSG Rupiah Tertekan|Asing Kabur Rp2 Triliun

· IHSG

Tekanan Global

Hari ini rupiah ditutup melemah ke Rp17.210 per dolar AS. Bukan karena ada masalah di dalam negeri — melainkan karena Trump menolak proposal damai terbaru dari Iran.

Selat Hormuz belum dibuka. Pasokan energi global masih dalam ketidakpastian. Harga minyak Brent kembali bergerak di atas US$108 per barel.

Ketika Selat Hormuz terancam, dolar AS langsung diburu sebagai aset aman. Mata uang negara berkembang tertekan — rupiah bukan pengecualian.

Yang membuat situasi ini lebih rumit adalah posisi Indonesia sebagai net importir minyak. Setiap kenaikan harga minyak langsung membebani neraca perdagangan, menekan inflasi domestik, dan menambah tekanan pada nilai tukar secara bersamaan.

Investor asing merespons dengan keluar. Net sell asing tembus Rp2 triliun hari ini. Saham-saham bank besar — BBRI, BBCA, BMRI — menjadi sasaran utama pelepasan. Aksi jual ini mencerminkan kalkulasi sederhana: jika rupiah terus melemah, imbal hasil aset Indonesia dalam dolar akan semakin kecil.

Bank Indonesia mengklaim cadangan devisa masih kuat di USD148,2 miliar dan menegaskan intervensi pasar akan terus dilakukan. Namun intervensi hanya bisa memperlambat pelemahan — tidak membalikkannya — selama ketidakpastian geopolitik masih mendominasi.

ANTM & Nikel

Di tengah tekanan pasar, PT Aneka Tambang justru melaporkan kinerja kuartal I-2026 yang sangat solid. Laba bersih ANTM melonjak 60 persen secara tahunan menjadi Rp3,41 triliun.

Pendapatan tumbuh 12 persen menjadi Rp29,32 triliun. Segmen nikel naik 18,57 persen. Segmen logam mulia — yang sangat diuntungkan oleh harga emas tinggi — menjadi kontributor utama dengan pendapatan Rp23,96 triliun.

Tapi ada ironi di balik angka-angka impresif ini.

Pemerintah memangkas kuota produksi nikel nasional dari 379 juta ton menjadi 260–270 juta ton tahun ini. Tujuannya adalah menaikkan harga — dan berhasil. Harga nikel domestik naik signifikan. Penambang diuntungkan.

Namun smelter justru terjepit. Mereka harus membeli bijih nikel dengan harga lebih tinggi, sementara kapasitas produksi terbatas. Eramet sudah mengumumkan operasi tambang Weda Bay berpotensi berhenti sementara pada Mei 2026 karena kuota RKAB habis.

Bersamaan dengan itu, kebijakan Devisa Hasil Ekspor atau DHE SDA yang sedang digodok pemerintah menambah kekhawatiran industri. Jika dana ekspor ditahan hingga satu tahun, arus kas perusahaan tambang bisa tertekan — terutama di tengah kenaikan biaya operasional yang sudah berjalan.

Industri batu bara juga merasakan efek geopolitik yang berbeda. Konflik AS-Iran mendorong harga Newcastle coal melampaui US$130 per ton. Ciptadana Sekuritas menaikkan rekomendasi Indo Tambangraya Megah menjadi BUY dengan target harga Rp34.200, memperkirakan laba ITMG bisa melonjak hingga 97 persen sepanjang 2026.

Krakatau Steel mengalami situasi sebaliknya — 300.000 ton bahan baku baja tertahan di Selat Hormuz akibat konflik Timur Tengah, mengancam operasional produksi baja domestik.

Ke Depan

Dua cerita hari ini terhubung oleh satu benang: ketidakpastian geopolitik sedang membentuk ulang arus modal di Indonesia.

Asing menjual saham bank karena rupiah tertekan. Rupiah tertekan karena minyak naik. Minyak naik karena Selat Hormuz belum aman. Dan Selat Hormuz belum aman karena Trump menolak proposal damai Iran.

Bukti-bukti yang ada mengarah pada skenario tekanan yang berlanjut dalam jangka pendek — selama negosiasi AS-Iran belum menemukan titik terang. Jika kondisi ini bertahan hingga pekan depan, level psikologis IHSG di 7.000 akan menjadi ujian nyata, dan rupiah berpotensi kembali menyentuh Rp17.300.

Namun skenario pembalikan juga nyata. Jika negosiasi damai tiba-tiba mencapai kemajuan — atau jika laporan keuangan teknologi AS pekan ini mengalahkan ekspektasi — sentimen risk-on bisa kembali dengan cepat. Dana asing yang keluar dari saham bank bisa berbalik masuk, dan rupiah punya ruang untuk menguat kembali ke kisaran Rp17.100.

Dua hal yang perlu dipantau besok: pertama, perkembangan pernyataan resmi dari negosiasi AS-Iran. Kedua, hasil laporan keuangan Microsoft dan Alphabet yang akan dirilis malam ini waktu Amerika — jika hasilnya mengecewakan, tekanan pada bursa Asia termasuk IHSG akan semakin berat esok pagi.

Yang bisa membuktikan skenario tekanan ini salah adalah satu sinyal sederhana: jika harga minyak Brent turun di bawah US$105, itu berarti pasar sudah mulai memperhitungkan kemungkinan resolusi konflik.

Link copied