IHSG Terburuk di Asia|Tiga Tekanan Sekaligus

· IHSG

Hormuz, Minyak, IHSG

IHSG menutup April 2026 dengan anjlok 2,03 persen ke level 6.956 — menembus bawah 7.000 untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, dan menjadi indeks dengan penurunan terdalam di seluruh bursa Asia hari ini. Bukan karena satu sentimen. Tiga tekanan datang bersamaan dan saling memperkuat.

Awal mula ada di Selat Hormuz. Sejak Iran menutup jalur pelayaran itu pada akhir Februari 2026, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia terganggu. Hari ini, Trump kembali mengancam blokade angkatan laut berkepanjangan terhadap Iran, dan sejumlah eksekutif minyak Amerika dikabarkan bertemu langsung di Gedung Putih untuk membahas dampaknya. Minyak mentah Brent sudah melampaui 100 dolar per barel, sementara WTI menyentuh 107 dolar — naik 15 persen hanya dalam sepekan.

Kenaikan harga minyak ini langsung menghantam dua titik lemah Indonesia sekaligus. Pertama, beban subsidi BBM dalam APBN 2026 semakin berat. Kedua, impor energi yang besar membuat kebutuhan dolar Indonesia melonjak. Rupiah pun melemah melewati level 17.353 per dolar AS — posisi terlemah sepanjang sejarah, bahkan melampaui titik terendah era krisis 1998 dalam konteks kurs spot modern. Imbal hasil SUN tenor 1 tahun naik 13,2 basis poin ke 6,35 persen, tertinggi sejak Maret 2025, menandakan investor mulai melepas obligasi domestik secara besar-besaran.

Di pasar saham, asing mencatat net sell Rp 1,49 triliun hanya dalam satu hari. Dalam sepekan, dana asing yang keluar dari pasar modal Indonesia mencapai Rp 8,62 triliun. Saham Bank Central Asia turun 2,51 persen, Bank Rakyat Indonesia melemah hampir 2 persen, dan Aneka Tambang ambruk 6,44 persen. Seluruh sebelas sektor IHSG ditutup di zona merah — tidak ada satu pun yang selamat.

Laba Terbelah Dua

Di tengah tekanan pasar yang merata, laporan keuangan kuartal I-2026 justru memberikan gambar yang berlawanan arah — dan pemisahnya bukan sektor, melainkan paparan terhadap guncangan eksternal.

Bukit Asam mencatatkan laba bersih Rp 801,79 miliar, naik 104 persen dibanding setahun lalu. Caranya bukan lewat kenaikan pendapatan — pendapatan justru sedikit turun menjadi Rp 9,93 triliun. Yang berubah adalah efisiensi: beban pokok berhasil dipangkas hampir 6 persen, sehingga laba bruto melonjak 47 persen. Ketika harga batu bara global masih terjaga di level tinggi, produsen yang mampu menekan biaya akan menikmati margin ganda.

Namun cerita berbeda terjadi di United Tractors. Laba bersih anjlok 80 persen menjadi hanya Rp 643 miliar, dari Rp 3,18 triliun setahun sebelumnya. Penyebabnya spesifik: Tambang Emas Martabe milik PT Agincourt Resources praktis tidak beroperasi sepanjang kuartal ini karena menunggu persetujuan lingkungan dari Kementerian LHK. Penjualan emas tercatat hanya 4 ribu ons — turun 93 persen. Segmen mesin konstruksi juga tertekan akibat pemotongan alokasi RKAB batu bara nasional 2026, yang menekan permintaan alat berat pertambangan.

Unilever Indonesia menunjukkan tanda pemulihan nyata. Laba bersih naik 73 persen ke Rp 1,3 triliun dengan penjualan domestik Rp 8,4 triliun yang tumbuh solid. Astra International mencetak laba Rp 5,85 triliun di kuartal I. Namun di pasar hari ini, bahkan emiten dengan kinerja baik pun tidak luput dari tekanan jual — karena yang dijual bukan fundamental, melainkan mata uang dan risiko makro.

Satu Variabel Penentu

Dua tema hari ini — keruntuhan IHSG dan divergensi kinerja emiten — sebenarnya bermuara pada satu pertanyaan yang sama: seberapa lama harga minyak tetap di atas 100 dolar, dan apakah Selat Hormuz akan kembali terbuka.

Jika Hormuz tetap tertutup dan Trump meneruskan tekanan militer terhadap Iran, skenarionya jelas: minyak tetap tinggi, rupiah terus tertekan, defisit APBN melebar karena subsidi energi membengkak, dan asing akan terus menarik modal dari aset Indonesia. Bank Indonesia memang masih menahan suku bunga di 4,75 persen dan melakukan intervensi di pasar NDF serta DNDF, tetapi para ekonom memperingatkan bahwa instrumen itu memiliki batas — kenaikan suku bunga acuan hanya akan menjadi pilihan terakhir jika rupiah terus meluncur dan inflasi impor mulai melebar.

Bobot bukti saat ini menunjuk ke tekanan yang belum berakhir. Rupiah telah overshoot 5 hingga 8 persen dari nilai wajar fundamentalnya di kisaran Rp 16.000 hingga Rp 16.500 per dolar. Posisi itu tidak akan pulih hanya lewat narasi — yang dibutuhkan adalah perbaikan nyata: pasokan dolar dari ekspor masuk ke sistem keuangan domestik, kejelasan skenario subsidi energi, dan tanda-tanda de-eskalasi di Timur Tengah.

Namun arah sebaliknya tetap terbuka. Jika negosiasi AS-Iran menghasilkan proposal yang diterima Trump — terutama yang menyentuh program nuklir Iran — Selat Hormuz bisa dibuka kembali dalam hitungan hari. Harga minyak akan koreksi tajam, tekanan rupiah mereda, dan asing yang selama ini menunggu di pinggir bisa masuk kembali secara cepat. IHSG pernah rebound kuat setelah setiap periode tekanan hebat — dan level di bawah 7.000 secara historis menarik pembeli jangka menengah.

Dua penanda yang perlu diperhatikan dalam beberapa hari ke depan: pertama, apakah imbal hasil SUN tenor 10 tahun bertahan di bawah 7 persen atau justru menembus ke atas. Kedua, apakah ada sinyal konkret dari pembicaraan AS-Iran menjelang akhir pekan. Jika dua sinyal itu tetap negatif, rupiah di kisaran Rp 17.400 hingga Rp 17.550 bukan lagi skenario ekstrem.

Link copied