Independensi BI Dipertanyakan|BBCA-BBRI Terendah 5 Tahun

· IHSG

Ketika BI Kehilangan Pijakan

BBCA ditutup turun 6,45% ke Rp5.075 pada Jumat ini — level terendah dalam lima tahun — dan bukan karena laba perusahaan yang bermasalah. Kuartal pertama 2026 BCA mencatat laba bersih Rp14,7 triliun dengan kredit tumbuh 5,6% dan CASA Rp1.089 triliun. Yang berubah bukan fundamentalnya, melainkan frame di mana investor mengevaluasi seluruh aset perbankan Indonesia.

Persoalan dimulai dari UU P2SK yang baru disahkan DPR. Aturan baru ini memperluas mandat Bank Indonesia ke sektor riil dan penciptaan lapangan kerja — model yang diklaim terinspirasi dari The Fed. Tapi ada bedanya yang krusial: The Fed beroperasi dengan independensi yang sudah puluhan tahun diuji pasar, sementara BI masuk ke mandat baru ini dengan rekam jejak yang justru sedang dipertanyakan.

Keraguan bukan sekadar teori. Ketika Thomas Djiwandono berpindah dari Wakil Menteri Keuangan ke Dewan Gubernur BI pada Februari 2026, pasar mulai mempertanyakan apakah kebijakan moneter masih bebas dari tekanan eksekutif. UU P2SK menambahkan lapisan baru: DPR kini memiliki kewenangan evaluasi kinerja BI dan persetujuan anggaran tahunannya. Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal menyebut langkah ini "semakin menambah daftar kekhawatiran pelaku usaha."

Implikasi terhadap rupiah langsung terasa. Pagi Jumat, rupiah dibuka melemah ke Rp18.066 per dolar AS — dipicu surplus perdagangan April 2026 yang mengecewakan. BI kemudian mengintervensi pasar dan rupiah menguat tipis ke Rp18.036 sore hari. Tapi sinyal dari intervensi itu justru mempertegas ketegangan: bank sentral yang harus mengintervensi setiap hari bukan bank sentral yang mengendalikan ekspektasi.

Analis Panin Sekuritas Elandry Pratama mencatat selama tekanan terhadap rupiah dan arus keluar dana asing belum mereda, IHSG akan terus menguji area support 5.700–5.900. Yang belum terjawab adalah apakah tekanan ini berasal dari faktor eksternal yang sementara — atau dari repricing fundamental terhadap kredibilitas institusi moneter Indonesia.

Rp68,5 Triliun Keluar

Pertanyaan yang ditinggalkan chapter sebelumnya bukan tentang rupiah semata — melainkan tentang siapa yang memutuskan untuk keluar lebih dulu dan ke mana modal itu pergi. Investor asing sudah menjawab pertanyaan itu dengan angka.

Sejak awal 2026, investor asing membukukan net sell Rp68,5 triliun di pasar saham Indonesia hingga 4 Juni. Rp53,97 triliun di antaranya terakumulasi dalam periode Januari hingga akhir Mei saja. Pada Kamis (4/6) mereka kembali melepas Rp1,43 triliun dalam satu hari perdagangan, dan Jumat ini IHSG ditutup anjlok 4,20% ke 5.594 — level terendah dalam beberapa tahun.

BBCA menjadi epicenter tekanan itu. Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mencatat outflow di BBCA sekitar Rp23 triliun year-to-date hingga Mei 2026. Saham BBRI turun 2,49% ke Rp2.740, BMRI melemah 3,27% ke Rp3.840 — dan seluruh sektor keuangan terkoreksi 3,36% pada hari ini. Kapitalisasi pasar menyusut menjadi Rp9.807 triliun dari Rp10.284 triliun sehari sebelumnya.

Paradoksnya, IHSG anjlok 32,46% year-to-date sementara Vietnam menguat 2,64%, Singapura naik 9,07%, dan Taiwan melonjak 57,71%. Di tengah bursa Asia yang mayoritas menguat Jumat ini pun, hanya Indonesia yang tertekan signifikan. Pengamat pasar Hendra Wardana menegaskan penyebabnya lebih banyak berasal dari faktor internal: pelemahan rupiah, kekhawatiran kebijakan ekspor satu pintu DSI Danantara, dan arus keluar asing yang berkelanjutan.

Yang menarik adalah investor domestik masih menyerap tekanan itu. Porsi transaksi investor domestik mencapai 67,03% dari total aktivitas YTD, sementara asing hanya 50,85% dari nilai pada 4 Juni. Artinya ada dua frame yang sedang dijalankan secara bersamaan di pasar yang sama: investor asing mempricing ulang risiko institusional Indonesia, sementara investor domestik belum sepenuhnya mengubah posisi mereka. Selama kedua kelompok itu belum mencapai titik equilibrium baru, volatilitas tidak akan berhenti pada level teknis mana pun.

OJK menyebut kondisi ini sebagai "fase konsolidasi" dan menegaskan stabilitas industri perbankan tetap terjaga dengan rasio kredit macet yang terkontrol. Tapi konsolidasi yang berlangsung tujuh pekan berturut-turut — IHSG terperosok tujuh minggu beruntun per data terakhir — sudah melampaui koreksi teknikal biasa.

Verifikasi kunci untuk minggu depan ada pada data Nonfarm Payrolls AS Mei 2026 yang dirilis malam ini: proyeksi menambah 85 ribu lapangan kerja dengan pengangguran tetap di 4,3%. Jika data NFP lemah dan dolar AS melemah, tekanan pada rupiah bisa mereda dan memberi ruang bagi asing untuk memperlambat net sell mereka di perbankan besar. Sebaliknya, jika posisi investor asing terhadap seluruh aset Indonesia tetap negatif bahkan setelah rupiah stabil — itulah tanda bahwa yang dijual bukan hanya mata uang, melainkan keyakinan terhadap arah kebijakan Indonesia secara keseluruhan.

Link copied