ISAT Jual Fiber Rp11,7T ke Adik Prabowo|Kas 3x Lipat, Saham Justru Turun

· IHSG

Kas Tiga Kali Lipat, Saham Malah Turun

PT Indosat Tbk (ISAT) baru saja merampungkan transaksi terbesar dalam sejarahnya: menjual 84,9% saham PT Infra Fiber Teknologi senilai Rp11,71 triliun, efektif 30 Juni 2026. Pembelinya bukan sembarang pihak — PT Nusantara Fiber Teknologi adalah entitas Arsari Group, perusahaan bisnis milik Hashim Djojohadikusumo, adik kandung Presiden Prabowo Subianto. Secara angka, ISAT mendapat injeksi kas besar: posisi kas yang sebelumnya Rp5,56 triliun kini melonjak menjadi sekitar Rp17,5 triliun, hampir tiga kali lipatnya. Manajemen pun mengumumkan keuntungan satu kali sebesar Rp1,65 triliun dari dekonsolidasi aset ini. Namun reaksi pasar justru sebaliknya — saham ISAT ditutup melemah 5,04% ke Rp1.885 per saham setelah transaksi diumumkan. Di sinilah paradoksnya: perusahaan yang baru saja mendapat Rp11,71 triliun tunai justru dinilai pasar lebih rendah. Bottleneck-nya bukan pada kas yang masuk, melainkan pada apa yang ISAT lepaskan secara berulang — arus pendapatan dari aset fiber yang selama ini masuk ke laporan keuangan konsolidasi kini hilang selamanya. Pasar bukan menghukum kas yang masuk; pasar menghukum earnings power yang keluar.

Yang Hilang Tidak Tampak di Kas

Struktur transaksi ini lebih rumit dari headline Rp11,71 triliun yang terlihat. ISAT memang menerima dana tunai penuh, tetapi sebagai gantinya ISAT kini harus menyewa kembali jaringan fiber yang sama dari PT Infra Fiber Teknologi melalui skema lease back. Artinya, biaya sewa dan depresiasi akan naik di laporan keuangan ISAT ke depan — bukan hilang. Analis CGS International Andrian Saputra secara eksplisit menyebut bahwa "jika one-off ini diabaikan, dampaknya relatif kecil terhadap bisnis ISAT karena kenaikan biaya sewa dan depresiasi sebagian besar diimbangi oleh penurunan beban bunga." Dengan kata lain: EBITDA berulang ISAT hampir tidak berubah. Ini yang membuat pemegang lama meragukan apakah transaksi ini menguntungkan mereka secara operasional. Namun analis BRI Danareksa melihat angle berbeda: IFT kini akan mengelola lebih dari 86.000 kilometer jaringan fiber dengan model open access, artinya ISAT tetap bisa memanfaatkan infrastruktur tanpa harus menanggung beban modal sebesar sebelumnya. Di satu sisi: ISAT melepas beban modal besar. Di sisi lain: ISAT juga melepas upside jika aset fiber itu nilainya terus naik seiring lonjakan permintaan AI dan data center. Kedua pembacaan ini sama-sama valid — dan itulah yang membuat saham belum menemukan arah yang jelas.

Ke Mana Perginya Rp17,5 Triliun Itu

Pertanyaan yang paling menekan pemegang dan calon pembeli ISAT bukan tentang siapa yang membeli aset fibrenya, melainkan ke mana kas Rp17,5 triliun itu akan mengalir. BRI Danareksa mengidentifikasi tiga aliran: pertama, biaya spektrum frekuensi yang harus dibayar di muka sekitar Rp2,4 triliun; kedua, tambahan capex jaringan Rp4,4 triliun kumulatif sepanjang 2026-2028; ketiga, excess cash sekitar Rp4,9 triliun hingga Rp5,6 triliun yang berpotensi dibagikan sebagai dividen spesial. Dividend yield potensial dari excess cash itu adalah 7,6% hingga 8,7% — angka yang sangat menarik di pasar Indonesia. Masalahnya: prioritas penggunaan kas belum diumumkan secara resmi. Jika ISAT memutuskan mendahulukan spektrum 5G dan capex jaringan — yang secara strategis masuk akal mengingat MSCI masih membekukan penambahan saham Indonesia karena reformasi pasar modal belum rampung — maka dividen spesial akan tertunda atau diperkecil. Sebaliknya, jika ISAT segera mengumumkan dividen spesial sebelum kebutuhan spektrum terkonfirmasi, maka narasi "kas tiga kali lipat langsung dikembalikan ke pemegang" menjadi katalis nyata untuk kenaikan harga. Asumsi tersembunyi yang dipegang konsensus adalah dividen spesial hampir pasti terjadi — padahal belum satu pun keterbukaan informasi mengonfirmasi ini.

Postur Keputusan: Pemegang dan Pengamat

Transaksi ini tidak menciptakan one-size-fits-all signal bagi investor. Bagi pemegang ISAT, pertanyaannya adalah apakah mereka rela menunggu kepastian penggunaan kas — yang bisa berbulan-bulan — dengan posisi yang sudah melemah 5% dalam sehari. Risiko nyata bukan dari Hashim atau hubungan politiknya, melainkan dari jadwal dan prioritas alokasi kas yang masih kabur. Jika pengumuman dividen spesial Rp4,9T-5,6T keluar sebelum Oktober 2026, pemegang memiliki alasan untuk bertahan karena yield 7,6%-8,7% jauh di atas pasar. Jika yang keluar lebih dahulu adalah pengumuman tambahan capex atau pembelian spektrum yang menghabiskan sebagian besar excess cash, maka katalis dividen melemah dan harga akan merefleksikan earnings power yang flat. Bagi yang belum masuk: ISAT di Rp1.885 terhadap target BRI Danareksa Rp3.000 memang mencerminkan diskon yang besar, tetapi diskon itu tidak akan menyempit sampai ada satu dari dua hal: pengumuman resmi dividen spesial atau jadwal pasti pembayaran spektrum 5G. Kedua hal itulah yang perlu dipantau sebelum mengambil posisi — bukan siapa pembeli asetnya, dan bukan seberapa besar kasnya. Yang menjadi perangkap adalah masuk sebelum kepastian alokasi kas, dan yang menjadi peluang adalah masuk tepat setelah pengumuman dividen spesial dikonfirmasi.

Link copied