Nikel US19.350|Indonesia Pangkas Produksi, Harga Justru Meledak

· IHSG

IHSG Merah, Tapi Satu Komoditas Bergerak Berlawanan

Pekan lalu IHSG ambruk 6,6 persen. Investor asing kabur membawa Rp2,95 triliun dalam lima hari, memukul BBCA, BBRI, dan BMRI secara bersamaan. Kapitalisasi pasar menyusut menjadi Rp12.736 triliun, dan Senin ini indeks berbalik ke zona merah lagi setelah sempat rebound di sesi pertama.

Di tengah tekanan itu, ada satu angka yang bergerak ke arah sebaliknya. Harga nikel di London Metal Exchange menyentuh US$19.350 per ton hari ini — tertinggi sejak Juni 2024. Dalam tiga pekan terakhir, logam ini naik sekitar 10 persen. Bukan karena permintaan baterai EV melonjak. Bukan karena China membuka stimulus besar. Melainkan karena Indonesia — produsen nikel terbesar di dunia — secara aktif memangkas produksinya sendiri.

Pertanyaan yang perlu dijawab: mengapa negara pengekspor nikel terbesar justru menjadi pemicu kenaikan harga nikel global, dan apakah ini pertanda baik atau jebakan bagi saham-saham tambang domestik?

Dua Kekuatan yang Memperketat Pasokan dari Dalam

Ada dua tekanan yang menekan sisi suplai nikel secara bersamaan, dan keduanya berakar di Indonesia.

Pertama, Kementerian ESDM memproyeksikan pemangkasan target produksi nikel menjadi sekitar 250 hingga 260 juta ton tahun ini. Angka itu jauh lebih rendah dari RKAB 2025 yang mencapai 379 juta ton — penurunan sekitar 30 persen. Bukan pemangkasan kecil. Dan bukan keputusan pasar. Ini keputusan regulasi.

Kedua, sebanyak 106 perusahaan tambang mineral dan batu bara belum menyampaikan RKAB 2026 hingga hari ini. Kementerian ESDM sudah mengirimkan surat peringatan ketiga. Artinya, sebagian kapasitas tambang secara efektif sedang dalam status tidak beroperasi penuh — menunggu izin yang belum terbit.

Di luar faktor domestik, kekurangan sulfur global ikut memperketat prospek pasokan. Sulfur digunakan dalam proses pemurnian nikel. Ketika perang Iran memicu lonjakan harga sulfur, biaya dan kapasitas pemurnian nikel — termasuk produksi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) di Indonesia — ikut tertekan.

Hasilnya: pasokan nikel global mengecil dari beberapa arah sekaligus, sementara kontrak berjangka di LME merespons dengan kenaikan yang cukup tajam.

Tapi ada satu hal yang perlu diperhatikan. Kenaikan harga nikel global tidak otomatis menguntungkan emiten tambang nikel Indonesia. Ketika RKAB dipangkas, volume produksi dan penjualan emiten juga turun. Margin bisa membaik, tapi pendapatan bisa stagnan atau bahkan lebih rendah dibanding tahun lalu. Ini bukan kondisi bull sederhana untuk saham nikel.

Ke Mana Harga Nikel Selanjutnya, dan Apa Artinya bagi Pasar Modal

Harga nikel saat ini berada di titik tertinggi dua tahun. Pola yang menarik: pada siklus 2022 hingga 2023, nikel sempat melonjak ekstrem akibat short squeeze di LME, lalu anjlok dalam dalam beberapa kuartal setelahnya. Kali ini pemicunya berbeda — bukan spekulasi posisi pendek, tapi pengetatan pasokan struktural dari produsen terbesar dunia.

Jika kondisi ini berlanjut, ada dua skenario yang bisa berkembang. Skenario pertama: pemangkasan RKAB konsisten dijalankan, sulfur tetap langka, dan harga nikel bertahan di atas US$18.000 hingga pertengahan tahun. Dalam kondisi itu, emiten seperti INCO dan MBMA berpeluang mencatat margin lebih baik meski volume lebih rendah. Nilai rupiah yang masih tertekan juga menguntungkan eksportir komoditas karena pendapatan dalam dolar.

Skenario kedua: 106 perusahaan yang belum lapor RKAB akhirnya mendapat persetujuan serentak, pasokan global kembali longgar, dan harga nikel koreksi. Apalagi jika perundingan Iran-AS menghasilkan kesepakatan dan Selat Hormuz kembali penuh — tekanan sulfur bisa mereda dan momentum harga nikel kehilangan bahan bakarnya.

Saat ini, keseimbangan masih condong ke skenario pertama selama RKAB tidak diperlonggar secara massal. Yang perlu diamati dalam beberapa hari ke depan: apakah Kementerian ESDM memberikan sinyal relaksasi kuota, dan bagaimana pergerakan harga sulfur di pasar spot global.

IHSG mungkin masih merah. Tapi nikel sedang membuktikan bahwa tidak semua cerita hari ini bergerak ke arah yang sama. Pertanyaannya: apakah pemangkasan produksi ini kebijakan yang disengaja untuk mengerek harga, atau efek samping dari regulasi yang terlambat dijalankan?

Link copied