RANS IPO Rp429 Miliar|Laba Turun 41% tapi PER Tembus 38 Kali

· IHSG

Brand 155 Juta Pengikut, Laba Justru Menyusut

PT Rans Entertainmen Indonesia Tbk membuka book building IPO pada 23 Juni 2026 dengan harga penawaran Rp135 hingga Rp170 per saham, membidik dana segar Rp429 miliar. Paradoksnya, laba bersih RANS sepanjang 2025 justru turun 41% menjadi sekitar Rp56,7 miliar dibanding tahun sebelumnya. Bottleneck di sini bukan soal apakah brand Raffi Ahmad kuat — 155 juta pengikut di berbagai platform adalah fakta yang tidak terbantahkan. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah aset brand tersebut bisa dikonversi menjadi arus kas yang konsisten dan tumbuh, bukan sekadar menjadi dasar valuasi premium di atas kertas.

Bisnis kuliner RANS Nusantara Hebat di BSD, yang dibuka bersama Kaesang Pangarep dan Sinar Mas Land, resmi berhenti beroperasi sejak Februari 2025. Penutupan ini terjadi kurang dari dua tahun setelah peletakan batu pertama pada Mei 2023. RANS beroperasi di tiga segmen utama: media dan konten digital, manajemen talenta, serta pengembangan bisnis baru termasuk properti hiburan Cipungland dan ekosistem AI bersama Feedloop. Diversifikasi ini terlihat agresif, tapi rekam jejaknya masih tipis — penutupan bisnis kuliner andalan menunjukkan bahwa eksekusi di luar konten digital belum terbukti.

Menariknya, di tengah penurunan laba ini, RANS mematok PER 30 hingga 38 kali — angka yang oleh analis Phintraco Sekuritas dikategorikan sebagai premium atau overvalue untuk perusahaan yang belum memiliki rekam jejak pertumbuhan laba yang konsisten. Valuasi ini bukan harga murah yang menunggu untuk naik; ini adalah harga yang sudah mengandaikan pertumbuhan masa depan yang belum terjadi.

Siapa yang Sebenarnya Menjual di IPO Ini

Sebelum masuk ke angka valuasi, ada satu hal yang jarang dibahas secara terbuka: struktur pemegang saham RANS sebelum IPO mengungkap sebaran nama yang sangat spesifik. Raffi Ahmad menguasai 78,68% atau 7,935 miliar saham. PT Indonesia Entertainment Grup — anak usaha Grup Emtek — memegang 9,04%. Yang menarik, Dony Oskaria, Kepala Badan Pengaturan BUMN sekaligus paman Nagita Slavina, menguasai 3,42%. Kaesang Pangarep, putra bungsu mantan Presiden Joko Widodo, memegang 1,14%.

RANS menawarkan 20,02% saham baru kepada publik — artinya dilusi kepemilikan, bukan penjualan saham lama secara langsung. Tetapi perdebatan exit liquidity muncul bukan tanpa alasan. Dalam IPO yang menawarkan saham baru dengan harga premium di tengah laba yang turun, pertanyaan kritisnya adalah: apakah dana yang masuk akan benar-benar mendorong pertumbuhan bisnis, atau justru meningkatkan nilai perusahaan secara artifisial sebelum pemegang saham lama memiliki kesempatan exit di masa depan?

Analis dari Panin Sekuritas menyatakan IPO ini belum serta-merta bisa disebut exit liquidity, dan tidak ada temuan hukum yang mengarah ke sana. Namun, KISI Sekuritas secara eksplisit menyebut IPO ini menarik hanya sebagai "thematic play untuk investor ritel" — dan bukan untuk investor fundamental yang mengutamakan konsistensi laba. Dua posisi yang berbeda dari dua analis yang dikutip di pool ini bukan sekadar perbedaan pandangan; ini mencerminkan ketidaksesuaian yang fundamental antara siapa yang akan membeli saham RANS dan mengapa mereka membelinya.

Penggunaan dana IPO pun layak dicermati: 37,61% untuk biaya operasional konser artis, 8,15% untuk entitas AI baru, 19,80% untuk akuisisi saham Slavina (merek kosmetik Nagita), dan 6,98% untuk melunasi pinjaman BNI. Hanya komponen Cipungland yang mencerminkan aset fisik jangka panjang dengan potensi arus kas stabil. Sisanya — konser, AI startup, dan pelunasan utang — adalah pengeluaran yang tidak menghasilkan aset produktif yang terukur.

PER 38 Kali untuk Bisnis yang Belum Stabil

Di sinilah paradoks utama RANS paling tajam: valuasi premium 30-38 kali laba dibenarkan oleh siapa dan atas dasar apa. Analyst Phintraco Sekuritas menegaskan bahwa PER ini masuk kategori premium karena perusahaan masih dalam fase ekspansi dan belum memiliki rekam jejak pertumbuhan laba yang konsisten. Dalam bahasa investasi, membayar PER 38 kali berarti investor memproyeksikan bahwa laba akan tumbuh sangat cepat dan berkelanjutan dalam beberapa tahun ke depan. Proyeksi itu memerlukan satu asumsi kritis: bahwa brand Raffi Ahmad adalah aset yang dapat dimonetisasi secara skala dan berulang, bukan semata bergantung pada satu orang.

Inilah asumsi yang belum terbukti. Bisnis konten digital RANS sangat bergantung pada kehadiran dan reputasi Raffi Ahmad secara personal. Head of Research KISI Sekuritas menyebutnya sebagai "key person risk" — jika tokoh utama RANS terganggu, seluruh model bisnis guncang. Berbeda dengan bisnis media konvensional yang punya aset distribusi dan konten yang bisa hidup tanpa wajah pendirinya, model creator economy seperti RANS menempatkan satu individu sebagai infrastruktur bisnisnya.

Di sisi lain, ada sudut pandang yang berlawanan langsung: Phintraco mencatat RANS memiliki kombinasi bisnis yang jarang di BEI — media, hiburan, IP, dan ekosistem digital dalam satu entitas. Kelangkaan ini sendiri bisa menjadi alasan valuasi premium, karena tidak ada pembanding yang tepat. Ketika tidak ada peers yang apple-to-apple, valuasi menjadi sulit dibantah — dan ini justru membuka ruang bagi mispricing ke dua arah.

Investor ritel kemungkinan besar akan membanjiri IPO ini berdasarkan popularitas RANS dan antisipasi kenaikan saham di hari pertama listing. Institusi, sebaliknya, kemungkinan bersikap sangat selektif karena model bisnis creator economy yang belum proven di pasar modal Indonesia. Divergensi ini menciptakan kondisi yang tidak nyaman: jika institusi absen dan hanya ritel yang masuk, tekanan jual pasca euforia listing akan lebih besar.

Kapan Thesis Ini Terbukti atau Runtuh

Satu sinyal yang paling memisahkan antara entry setup dan jebakan tersedia lebih cepat dari hari listing: tingkat oversubscription book building yang berlangsung 23-25 Juni 2026. Jika partisipasi institusi dalam book building signifikan dan oversubscription tinggi dari segmen non-ritel, itu sinyal bahwa investor dengan analisis fundamental menilai harga IPO masih bisa dipertahankan pasca listing. Sebaliknya, jika oversubscription didominasi ritel sementara institusi absen atau minimal, risiko koreksi tajam pasca listing meningkat secara substansial.

Hari pertama listing pada 10 Juli 2026 adalah titik verifikasi kedua. Saham IPO berbasis popularitas di Indonesia historis cenderung naik di hari pertama karena euforia ritel, lalu terkoreksi dalam beberapa minggu setelahnya ketika profit taking terjadi. Pertanyaannya bukan apakah RANS naik di hari pertama — kemungkinan besar ya. Pertanyaannya adalah apakah harga bertahan di atas harga penawaran dalam satu bulan setelah listing, yang akan mencerminkan apakah ada fundamental yang menopang atau hanya momentum.

Untuk pemegang saham pre-IPO yang kini mempertimbangkan posisi mereka: variabel yang paling menentukan adalah apakah RANS berhasil menunjukkan pertumbuhan pendapatan di luar personal brand Raffi Ahmad — lewat Cipungland, Slavina, atau kemitraan AI — dalam laporan keuangan kuartal pertama setelah listing. Jika pendapatan terdiversifikasi dan tumbuh, valuasi premium bisa dipertahankan. Jika tidak, PER 38 kali akan menjadi tekanan permanen pada harga saham.

Untuk calon investor yang belum masuk: IPO ini menjadi entry setup jika oversubscription dari institusi terlihat signifikan sebelum listing dan harga penawaran diputuskan di rentang bawah Rp135. Sebaliknya, menjadi jebakan jika institusi absen dalam book building dan harga dipatok di Rp170 dengan oversubscription murni dari ritel — kombinasi ini menghasilkan tekanan jual segera setelah lock-up ritel berakhir. Satu-satunya angka yang harus dicermati sebelum keputusan: persentase institusi dalam alokasi book building, bukan jumlah pengikut di Instagram.

Link copied