Royalti Tambang Naik|Margin emiten tambang yang terancam?
IHSG Terjun 2,86%
Pada hari yang sama harga batu bara global menyentuh 137 dolar AS per ton — level tertinggi dalam berbulan-bulan — saham-saham tambang Indonesia justru ambruk dua digit. Merdeka Copper Gold anjlok 14,69 persen, Timah merosot 14,88 persen, Vale Indonesia turun 12,30 persen. IHSG ditutup di level 6.969, meninggalkan zona 7.000 untuk pertama kalinya dalam beberapa pekan terakhir.
Penyebabnya bukan dari luar negeri. Pernyataan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia di Istana Merdeka pada Selasa lalu menjadi pemicunya. Pemerintah tengah mengkaji revisi PP Nomor 19 Tahun 2025 — skema royalti progresif baru yang akan menaikkan tarif royalti konsentrat tembaga dari tujuh persen menjadi sembilan hingga tiga belas persen, emas dari tujuh hingga enam belas persen menjadi empat belas hingga dua puluh persen, dan timah dari tiga hingga sepuluh persen menjadi lima hingga dua puluh persen.
Mekanismenya langsung: tarif progresif berarti perusahaan lebih cepat masuk ke lapisan royalti tertinggi seiring naiknya harga komoditas. Di saat harga batu bara sedang tinggi, windfall profit justru lebih banyak mengalir ke negara, bukan ke pemegang saham. MNC Sekuritas mencatat ini sebagai sinyal erosi margin jangka menengah, bukan sekadar koreksi teknikal satu hari.
Pemerintah juga mempertimbangkan penerapan windfall profit tax di atas bea keluar untuk nikel — kompensasi atas subsidi energi yang telah digelontorkan di tengah lonjakan harga minyak akibat konflik Timur Tengah. Dua kebijakan fiskal berbeda diarahkan ke sektor yang sama dalam waktu bersamaan.
Yang membuat investor semakin waspada: pengumuman ini datang tanpa konsultasi publik terlebih dahulu. Ketua IMEF Singgih Widagdo menyebut industri minerba memiliki karakteristik yang sangat berbeda dari migas — terdapat 946 izin usaha hanya untuk batu bara saja — sehingga penerapan tergesa-gesa berpotensi menjadi bumerang bagi investasi baru.
Cadangan Devisa & Rupiah
Tekanan dari dalam negeri tidak berhenti di lantai bursa. Bank Indonesia melaporkan cadangan devisa turun 1,95 miliar dolar AS menjadi 146,2 miliar dolar pada akhir April 2026 — level terendah sejak Juli 2024. Ini bulan ketiga berturut-turut cadangan devisa turun. Rupiah melemah enam pekan beruntun, ditutup di Rp17.382 per dolar AS pada Jumat.
Penurunan ini bukan anomali. Maybank Indonesia mengidentifikasi tiga tekanan yang terjadi serentak: arus keluar modal asing dari pasar saham dan obligasi, intervensi BI di pasar spot, DNDF, swap, dan obligasi pemerintah sekunder untuk menjaga rupiah, serta lonjakan permintaan valas musiman untuk distribusi dividen emiten dan pembayaran ongkos haji. Tidak ada satu faktor tunggal, dan itulah yang membuatnya sulit dikendalikan.
Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan bahwa rupiah saat ini berada dalam kondisi undervalued dibanding fundamental ekonomi. Pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,61 persen pada kuartal I 2026 — salah satu tertinggi di G20. Inflasi 2,42 persen. Neraca perdagangan masih surplus. Namun investor asing justru melepas kepemilikan obligasi senilai 11,5 juta dolar dan saham senilai 4,41 juta dolar dalam pekan yang sama.
Ini adalah titik tegangan yang sesungguhnya: fundamental domestik kuat, tetapi modal asing keluar. Selama ketidakpastian global — terutama konflik AS-Iran — mendominasi sentimen, aliran modal tidak mengikuti logika fundamental. Posisi cadangan devisa setara 5,8 bulan impor, masih di atas standar internasional tiga bulan, tetapi tren penurunannya yang konsisten menunjukkan BI membakar cadangan lebih cepat dari yang masuk.
Proyeksi Maybank Indonesia: cadangan devisa berpotensi naik kembali ke sekitar 154,8 miliar dolar hingga akhir 2026 — jika surplus perdagangan terjaga dan modal asing kembali. Dua syarat yang saling bergantung pada kondisi geopolitik yang belum mereda.
Guncangan Ganda
Dua tekanan hari ini — kebijakan fiskal tambang dan pelemahan cadangan devisa — tidak bergerak secara terpisah. Keduanya memperkuat satu sama lain melalui kanal yang sama: persepsi risiko terhadap Indonesia sebagai tujuan investasi.
Revisi royalti minerba mengirim sinyal bahwa aturan main dapat berubah sewaktu-waktu tanpa proses konsultasi yang panjang. Cadangan devisa yang terus tergerus menunjukkan bahwa BI menghadapi tekanan stabilisasi yang mahal. Investor asing yang mencermati keduanya mendapat dua argumen untuk mengurangi eksposur, bukan menambah.
Potensi pemulihan ada. Jika pekan depan pertemuan Trump dan Xi Jinping di Beijing — yang direncanakan 14 hingga 15 Mei — menghasilkan sinyal de-eskalasi perdagangan, arus modal global ke emerging market bisa berbalik. IHSG berpeluang menguji kembali level 7.200 jika sentimen eksternal membaik dan detail revisi royalti diumumkan lebih terukur dari yang dikhawatirkan pasar.
Tetapi arah leaning saat ini condong ke bawah. Revisi PP 19/2025 masih dalam tahap kajian tanpa jadwal finalisasi yang jelas. Konflik di Selat Hormuz masih aktif. Dan rupiah, yang telah melemah enam minggu berturut-turut, belum menemukan katalis pembalikan dari dalam negeri.
Benchmark yang perlu dicermati dalam beberapa hari ke depan: apakah IHSG mampu bertahan di atas 6.950 — batas bawah teknikal yang disebut MNC Sekuritas sebagai skenario terburuk — dan apakah rupiah kembali ke bawah Rp17.300 setelah data cadangan devisa April diserap pasar. Jika dua angka ini tidak terpenuhi sebelum akhir pekan depan, tekanan jual pada saham-saham tambang kemungkinan belum selesai.