Rupiah Rp17.353|Lebih Lemah dari Krisis 1998, dan Belum Ada Tanda Berhenti

· IHSG

IHSG Ambruk, Rupiah Tembus Rekor Sepanjang Sejarah

Rupiah ditutup di level 17.353 per dolar Amerika Serikat pada Kamis, 30 April 2026. Bukan sekadar angka tertinggi tahun ini. Ini adalah posisi terlemah rupiah sepanjang sejarah Indonesia — melampaui titik terendah yang pernah dicapai saat krisis moneter 1998.

Saat itu, Indonesia nyaris kolaps. IMF datang dengan paket bailout senilai 43 miliar dolar. Presiden mundur. Reformasi bergulir. Dan rupiah yang sempat menyentuh 16.800-an akhirnya pulih dalam beberapa tahun.

Hari ini, angkanya lebih buruk. Dan tidak ada IMF yang datang mengetuk pintu.

Di Bursa Efek Indonesia, IHSG ditutup anjlok 2,03 persen ke level 6.956 — keluar dari zona 7.000 untuk pertama kali dalam waktu lama. Bloomberg Technoz melaporkan IHSG menjadi indeks terburuk di seluruh bursa Asia pada hari ini. Sejak awal tahun, indeks sudah tergerus hampir 20 persen. Dana asing yang hengkang hari ini saja mencapai Rp1,49 triliun, membawa total net sell asing ke angka yang terus membesar.

Tekanan datang dari tiga arah sekaligus. Harga minyak dunia melonjak seiring ancaman Presiden AS Donald Trump untuk memperpanjang blokade laut terhadap Iran. Dolar menguat. Dan kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Indonesia yang semakin terasa di pasar obligasi membuat investor asing semakin tidak nyaman.

Sementara itu, di tengah tekanan ini, Bank Indonesia resmi meluncurkan sistem pembayaran QRIS lintas negara dengan China — sebuah langkah ekspansi digital yang disambut baik, namun tersapu oleh dominasi sentimen negatif di pasar.

Mengapa 2026 Lebih Berat dari 1998

Perbandingan dengan 1998 terasa berlebihan — sampai angkanya benar-benar terlampaui.

Pada krisis 1998, rupiah jatuh karena faktor eksternal yang sangat tiba-tiba: penularan krisis Asia, pelarian modal dalam waktu singkat, dan kepanikan sistemik. Ada titik puncak yang jelas, ada intervensi internasional, dan ada jalur pemulihan yang bisa dipetakan.

Yang terjadi di 2026 berbeda. Pelemahan rupiah berlangsung perlahan tapi konsisten — tiga hari perdagangan berturut-turut mengalami pelemahan, tanpa sinyal pembalikan yang tegas dari Bank Indonesia. Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuabi, memperkirakan rupiah pekan depan masih akan bergerak di kisaran 17.350 hingga 17.400 per dolar AS.

Ini bukan kepanikan sesaat. Ini adalah tekanan struktural yang menumpuk.

Ada dua variabel yang membuat situasi 2026 lebih rumit. Pertama, kondisi fiskal Indonesia sedang dalam tekanan. APBN harus menanggung kenaikan harga energi global sekaligus belanja yang terus membesar. Ekonom dari Bloomberg Technoz menyebut kekhawatiran fiskal sebagai salah satu pendorong utama pelemahan rupiah — bukan hanya sentimen eksternal. Kedua, imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) naik karena investor asing banyak melepas, sementara imbal hasil SRBI juga bergerak ke atas. Pasar obligasi dan pasar saham kompak melemah bersamaan — kombinasi yang jarang terjadi dan biasanya menandakan tekanan yang lebih dalam.

Di sisi emiten, gambaran Q1-2026 semakin memperkuat kekhawatiran. Astra International mencatat laba bersih Rp5,85 triliun — turun 16 persen secara tahunan, tertekan dari divisi alat berat dan pertambangan. United Tractors anjlok lebih dalam: laba turun 80 persen menjadi hanya Rp643 miliar karena operasi tambang emas yang sempat berhenti. Di sisi lain, Unilever Indonesia mencatatkan laba bersih Rp1,3 triliun, naik 14 persen — sektor konsumer domestik masih bertahan, menopang sebagian beban.

Namun Unilever tidak cukup untuk menahan arus. Ketika saham-saham big cap berguguran dan dana asing terus keluar, pertanyaan yang sesungguhnya bukan lagi soal siapa yang masih tumbuh. Pertanyaannya adalah: siapa yang akan menahan rupiah?

Apa yang Perlu Diperhatikan Setelah Ini

Dalam sejarah pasar Indonesia, ada pola yang berulang: ketika IHSG dan rupiah jatuh berbarengan dalam waktu yang cukup lama, pada akhirnya salah satu dari dua hal yang terjadi — Bank Indonesia melakukan intervensi agresif di pasar valuta asing, atau ada pemicu eksternal yang membalikkan arah dolar secara global.

Saat ini, bukti yang ada menunjukkan tekanan masih berlanjut. Rupiah sudah menembus level yang tidak pernah terlihat sejak Indonesia berdiri sebagai negara modern. IHSG sejak awal tahun sudah kehilangan hampir seperlima nilainya. Dana asing belum menunjukkan tanda-tanda kembali.

Namun ada satu variabel yang bisa membalik arah: Federal Reserve Amerika Serikat. Pasar masih memantau kapan The Fed akan mulai memangkas suku bunga. Selama dolar tetap kuat karena Fed mempertahankan suku bunga tinggi, tekanan terhadap mata uang pasar berkembang seperti rupiah akan sulit mereda. Kontan melaporkan bahwa nilai tukar rupiah tertekan kombinasi sentimen eksternal dan kekhawatiran fiskal — keduanya tidak akan berubah dalam semalam.

Titik yang perlu diperhatikan dalam waktu dekat: apakah rupiah dapat bertahan di bawah 17.400 per dolar minggu depan, atau justru akan menembus level baru. Jika 17.400 ditembus secara konsisten, pasar akan mulai mempertanyakan kapasitas Bank Indonesia untuk mempertahankan stabilitas tanpa menaikkan suku bunga acuan — sesuatu yang, jika terjadi, menurut sejumlah ekonom bisa berdampak pada daya serap tenaga kerja dan sektor leasing.

Skenario pemulihan terbuka jika ada sinyal nyata dari The Fed — misalnya data ekonomi AS yang melemah lebih dari ekspektasi — atau jika pemerintah Indonesia mengumumkan langkah fiskal yang konkret untuk meredam kekhawatiran pasar. Dalam kondisi itu, rupiah bisa kembali menguji level 17.200 sebagai target awal.

Tapi selama kedua kondisi itu belum hadir, satu pertanyaan tetap menggantung: pada 1998, IMF datang. Pada 2026, siapa?

Link copied