Transfer Pricing CPO Rp1,5 T|10 Perusahaan Terbesar Semuanya Terlibat DSI Solusi atau Risiko Baru?

· IHSG

Pasar Hari Ini: IHSG Menguat di Tengah Tekanan Rupiah

Senin 25 Mei 2026, IHSG ditutup menguat tipis, sementara rupiah masih bertahan di kisaran Rp17.667 per dolar AS — angka yang tidak bergerak berarti meski Bank Indonesia baru saja menaikkan BI-Rate 50 basis poin menjadi 5,25% pekan lalu. Saham-saham sektor transportasi menjadi penopang utama hari ini, bergerak naik setelah sentimen yang sebelumnya menekan mulai mereda. Tapi kenaikan IHSG hari ini bukan cerita utamanya.

Yang lebih dalam terjadi di ruang rapat DPR di Senayan. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menghadiri rapat koordinasi pascabencana Sumatra — dan di sela itu, ia mengungkap temuan yang mengubah cara membaca mengapa rupiah tetap tertekan meski suku bunga sudah naik. Bank Indonesia sendiri menegaskan bahwa kenaikan BI-Rate diperlukan untuk menarik kembali arus modal asing, dengan pertumbuhan ekonomi kuartal I yang masih solid di 5,61 persen sebagai dasar kepercayaan diri. Tapi kepala ekonom Bank Permata Josua Pardede mengingatkan, transmisi suku bunga ke nilai tukar tidak instan — dan ada kemungkinan masalahnya bukan di sisi suku bunga sama sekali.

Sementara itu, pemerintah juga memastikan regulasi teknis untuk PT Danantara Sumberdaya Indonesia dan kebijakan DHE SDA akan selesai sebelum 1 Juni. Menteri Perdagangan Budi Santoso menyebut mulai tanggal itu, ekspor batu bara, CPO, dan ferro alloy secara bertahap diarahkan melalui DSI. Tiga bulan pertama eksportir masih boleh ekspor mandiri, tapi wajib lapor ke DSI. Setelah 1 Januari 2027, seluruh ekspor ketiga komoditas itu harus lewat satu pintu. Kebijakan ini tampaknya administratif. Tapi angka yang Purbaya ungkap hari ini menjelaskan mengapa kebijakan itu tidak bisa ditunda.

Transfer Pricing CPO: Rp1,55 Triliun dari Sampel Kecil Saja

Purbaya mengambil 10 perusahaan CPO terbesar Indonesia secara acak untuk diperiksa. Hasilnya: semuanya melakukan pola yang sama. Nilai indikasi kerugian dari sampel kecil itu mencapai US$88 juta — sekitar Rp1,55 triliun pada kurs Rp17.700. Dan Purbaya sendiri yang menegaskan ini baru sebagian kecil data.

Mekanismenya bukan rahasia di kalangan pelaku industri, tapi baru kali ini angkanya dibuka ke publik dengan cara ini. CPO dari Indonesia diekspor bukan langsung ke negara tujuan akhir, melainkan melalui pedagang perantara di Singapura. Harga yang tercatat keluar dari Indonesia ke Singapura separuh dari harga yang dibayar pembeli akhir di Amerika Serikat. Selisih itu tidak kembali ke Indonesia. Pajak ekspor yang diterima negara pun separuhnya. Devisa hasil ekspor yang masuk pun separuhnya.

Yang membuat ini bukan sekadar kasus pajak adalah skalanya. Sepuluh perusahaan terbesar — bukan perusahaan kecil, bukan pemain pinggiran — semuanya menggunakan pola yang sama. Jika 10 perusahaan terbesar yang mewakili mayoritas volume ekspor CPO nasional melakukan ini, maka asumsi bahwa devisa ekspor Indonesia selama ini mencerminkan nilai ekspor sebenarnya perlu ditinjau ulang. Menko Airlangga sudah lebih dulu menyebut data perdagangan Indonesia dengan AS berbeda hingga US$3–4 miliar, dan dengan China selisihnya bisa mencapai US$20–25 miliar. Transfer pricing CPO bukan satu-satunya penjelasan, tapi ini membuat gap itu konkret dan bisa dihitung.

Tapi di sinilah pertanyaannya menjadi lebih tajam. DSI dirancang untuk menutup celah ini dengan menjadikan seluruh ekspor CPO, batu bara, dan ferro alloy lewat satu entitas BUMN. Logikanya: jika satu pintu yang mengekspor, harga referensi tidak bisa dimanipulasi lewat perantara. Tapi logika itu mengasumsikan DSI sendiri akan dikelola dengan transparansi yang berbeda dari eksportir swasta yang selama ini beroperasi. Itu belum terbukti. Menko Airlangga menegaskan eksportir eksisting tetap yang melakukan ekspor fisik — DSI hanya di lapisan dokumentasi dan pelaporan di tahap transisi. Artinya celah di lapisan harga masih ada selama tiga bulan pertama, dan mungkin lebih lama dari itu.

Jika DSI Tidak Bisa Menutup Celah — Rupiah dan Devisa Terbuka ke Mana?

Pertanyaan yang Purbaya tinggalkan hari ini bukan soal siapa yang bersalah. Pertanyaannya adalah: berapa lama pasar percaya bahwa DSI akan berhasil memangkas kebocoran ini, dan apa yang terjadi pada rupiah jika kepercayaan itu tidak terbangun sebelum 1 Januari 2027?

Kenaikan BI-Rate 50 bps ke 5,25% adalah sinyal bahwa Bank Indonesia memilih jalur stabilitas, bukan pertumbuhan. Deputi Gubernur BI Destry Damayanti menyebut tekanan rupiah datang dari permintaan dolar yang tinggi di pertengahan tahun — dividen, repatriasi, musim haji — ditambah tekanan eksternal dari yield obligasi AS dan penguatan DXY. Itu semua benar. Tapi temuan transfer pricing hari ini menambahkan satu variabel yang tidak bisa diselesaikan dengan kenaikan suku bunga: devisa ekspor yang seharusnya masuk ke sistem perbankan domestik, tidak masuk karena nilainya sudah dikecilkan di level dokumen.

Skenario pertama: DSI berhasil menutup celah ini secara bertahap mulai Juni, dan kepercayaan pasar bahwa devisa ekspor akan lebih akurat menguat. Rupiah mendapat dukungan dari sisi supply dolar yang lebih nyata, bukan hanya dari sisi suku bunga. Dalam skenario ini, level Rp17.600 bisa menjadi batas atas yang bertahan lebih lama. Benchmark yang bisa dipantau: apakah laporan ekspor CPO periode Juni–Agustus menunjukkan peningkatan nilai devisa masuk ke perbankan domestik dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Skenario kedua: transisi tiga bulan pertama tidak mengubah pola harga ekspor karena kontrak eksportir dengan pembeli asing sudah terlanjur berjalan, dan DSI hanya mendapat dokumen tanpa wewenang memverifikasi harga referensi secara efektif. Dalam skenario ini, tekanan pada rupiah belum mereda meski suku bunga sudah naik — dan kenaikan BI-Rate berikutnya menjadi pilihan yang lebih menyakitkan karena pertumbuhan kredit yang sekarang masih 9,98 persen akan mulai terasa mendingin.

Yang belum terjawab adalah apakah pola ini di CPO berlaku juga di batu bara dan ferro alloy. Jika ya, angka Rp1,55 triliun dari sampel kecil CPO saja perlu dikalikan dengan skala total ekspor ketiga komoditas itu. Purbaya sendiri sudah menyebut angka sebenarnya "pasti lebih besar." Pasar belum harga ini sepenuhnya — yang terlihat hari ini hanya IHSG menguat tipis dan rupiah bergerak datar. Jika angka total bocoran devisa itu mulai dikuantifikasi secara resmi, pertanyaannya bukan apakah DSI cukup — tapi apakah tiga bulan transisi cukup.

Link copied