Vale Indonesia INCO|Laba Melonjak 313%, Bukan Sekadar Harga Nikel

· IHSG

Laba Melejit 313%

PT Vale Indonesia, dengan kode saham INCO, membukukan laba bersih US$104,37 juta pada semester pertama 2026, melonjak 313 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya US$25,24 juta. Pendapatan perusahaan naik menjadi US$543 juta, sementara beban pokok pendapatan justru menyusut, sehingga laba bruto melesat 404 persen menjadi US$152 juta.

Sumber pemulihan ini bukan sekadar harga jual yang membaik. Produksi nikel matte kuartal kedua naik 19 persen menjadi 16.153 ton setelah proyek pembangunan ulang Tanur Listrik 3 rampung pada Juni. Margin kotor melompat dari 7,1 persen menjadi 28 persen, dan margin EBITDA naik dari 20,4 persen menjadi 37,4 persen, mencerminkan pemulihan operasional yang lebih dalam daripada sekadar tren harga komoditas.

Analis BRI Danareksa Sekuritas menyebut hasil kuartal kedua ini mengonfirmasi tesis pemulihan yang sebelumnya baru berupa proyeksi. Sekarang recovery tervalidasi dengan angka konkret. Kombinasi harga nikel yang membaik dan normalisasi operasional pasca-perbaikan tanur menghasilkan ekspansi margin yang signifikan, bukan sekadar keberuntungan siklus harga komoditas global.

Efisiensi di Balik Angka

Di sisi biaya, INCO menekan biaya tunai pokok penjualan nikel matte menjadi US$10.005 per ton, membaik dari US$10.382 per ton pada kuartal sebelumnya. Bersamaan dengan itu, harga realisasi rata-rata nikel matte naik empat persen menjadi US$14.765 per ton. Kombinasi efisiensi biaya dan harga jual yang menguat inilah yang mendorong pendapatan kuartal kedua naik 15 persen dibanding kuartal pertama.

Yang menarik, penjualan nikel matte itu sendiri relatif flat. Lonjakan pendapatan justru datang dari diversifikasi ke penjualan bijih nikel mentah, yang melonjak 139,3 persen menjadi 2,33 juta ton basah, ditopang ramp-up di Blok Bahodopi dan Pomalaa. Ini menunjukkan bauran produk INCO menjadi lebih fleksibel, membantu mengompensasi saat pengiriman nikel matte masih lesu.

Kontras ini penting karena baru setahun lalu, pada kuartal kedua 2025, laba bersih INCO anjlok menjadi hanya US$3,5 juta akibat pelemahan harga nikel dan royalti baru yang memangkas margin. Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah pemulihan ini nyata, melainkan apakah momentum operasional yang baru pulih ini cukup kuat untuk bertahan melewati satu kuartal yang baik.

Saham Melompat, Target Rp8.000

Pasar merespons cepat. Pada sesi perdagangan Kamis, saham INCO melompat 5,60 persen ke level Rp4.900, ikut menopang penguatan IHSG bersama saham-saham blue chip lain. BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp8.000, menyiratkan potensi kenaikan sekitar 63 persen dari harga saat ini.

Target harga seagresif itu mengandaikan bahwa pemulihan margin kuartal kedua bukan puncak sesaat, melainkan baseline baru. Jika harga nikel tetap stabil di level saat ini dan tanur listrik yang baru diperbaiki terus beroperasi penuh, ruang untuk perbaikan lanjutan di semester kedua masih terbuka, sejalan dengan proyeksi bahwa laba baru mencapai 41,3 persen dari target setahun penuh.

Bagi investor yang sempat menghindari INCO setelah setahun kinerja lesu, laporan kuartal kedua ini mengubah perhitungan. Analis menyebutnya sebagai konfirmasi, bukan lagi harapan. Namun laba yang baru mencapai 41 persen dari target tahunan berarti separuh perjalanan masih harus dibuktikan di semester kedua, sebelum target Rp8.000 itu benar-benar teruji oleh angka riil berikutnya.

Link copied