Waskita Karya WSKT|Ekuitas Tersisa Rp1,5 Triliun, Ditunjuk Jadi Raja Tol Kedua RI

· IHSG

Rugi Rp2,17 Triliun, Tapi Ditunjuk Jadi Penerus Jasa Marga

Waskita Karya baru merilis laporan keuangan semester pertama 2026, dan ekuitasnya tinggal Rp1,5 triliun. Rugi bersih perusahaan pelat merah ini mencapai Rp2,17 triliun, sementara utang menumpuk hingga Rp66,53 triliun. Namun di tengah angka-angka itu, Danantara justru mengumumkan arah baru untuk Waskita, bukan penyelamatan darurat, melainkan ambisi menjadi operator jalan tol terbesar kedua di Indonesia setelah Jasa Marga.

Chief Operating Officer Danantara Indonesia, Dony Oskaria, secara terbuka menyebut rencana ini logis. Ia mengatakan Waskita menjadi perusahaan tol kedua setelah Jasa Marga itu tidak masalah, asal dihitung dengan benar. Pernyataan itu datang justru bersamaan dengan rilis rugi jumbo, bukan sesudah pemulihan terlihat.

Pertanyaannya sederhana namun tidak mudah dijawab. Apakah arah baru ini adalah pengakuan bahwa fondasi tol Waskita memang layak dikembangkan, atau justru narasi pemanis di atas neraca yang sedang berdarah-darah. Jawaban itu tidak ada di pengumuman Danantara, tapi ada di angka lain yang justru datang dari sesama lembaga yang menilai risiko keempat BUMN karya.

Sinarmas: Waskita Paling Berisiko dari Empat BUMN Karya

Riset Sinarmas Sekuritas membandingkan empat emiten BUMN karya, Waskita, Adhi Karya, Wijaya Karya, dan PP. Dari keempatnya, Waskita dinilai memiliki tingkat risiko paling tinggi. Debt to asset ratio-nya 0,93 kali, dan debt to equity ratio mencapai 15,35 kali, jauh di atas tiga rekan sesama BUMN karya. Sahamnya sendiri masih disuspensi sejak Mei 2023 setelah gagal membayar kupon dan pokok obligasi.

Tekanan ini bukan hanya di induk usaha. Anak usahanya, Waskita Beton Precast, mencatat rugi bersih Rp285,5 miliar pada semester pertama, naik dari periode yang sama tahun lalu. Defisiensi ekuitas WSBP melebar menjadi minus Rp2,24 triliun, meski pendapatan usahanya sebenarnya tumbuh 10,29 persen secara tahunan. Pendapatan naik, tapi beban pokok naik lebih cepat, dan itu yang menggerus laba kotor.

Di sinilah dua pembacaan itu berbenturan. Danantara menilai dari sisi aset, Waskita memang memiliki tujuh ruas tol yang bisa menjadi sumber arus kas stabil, argumen strategis jangka panjang. Sinarmas menilai dari sisi neraca hari ini, dan angka itu justru menempatkan Waskita sebagai yang paling rapuh di antara BUMN karya lainnya. Bukan salah satu yang keliru, tapi keduanya benar pada waktu yang berbeda: satu bicara potensi, satu bicara kondisi saat ini.

Restrukturisasi Dulu, Merger Belakangan

Jawaban atas paradoks itu ternyata sudah mulai terlihat dari pola yang sama diterapkan Danantara ke Adhi Karya dan PP. Rencana merger BUMN karya belum direalisasikan hingga memasuki semester pertama 2026. Danantara memilih memprioritaskan restrukturisasi keuangan kedua perusahaan itu lebih dulu, dengan dukungan pembiayaan dari bank Himbara, sebelum proses konsolidasi dijalankan.

Dony Oskaria bertemu langsung dengan jajaran direksi Bank Mandiri, BRI, BNI, PP, dan Adhi Karya awal Juli lalu untuk membahas skema pembiayaan tersebut. Sinarmas Sekuritas mendukung strategi ini, menyebutnya restructure first, merge later, lebih realistis dibandingkan memaksakan penggabungan ketika kondisi fundamental keempat emiten masih jauh berbeda.

Sinarmas memperkirakan target merger tetap dapat direalisasikan pada akhir 2026, tapi syaratnya jelas, proses restrukturisasi harus berhasil memperbaiki kondisi keuangan masing-masing perusahaan lebih dulu. Untuk Waskita, itu berarti pola yang sama kemungkinan besar akan diterapkan, pembiayaan Himbara diarahkan ke proyek tol yang produktif, sembari menyehatkan neraca yang saat ini masih defisit ekuitas.

Yang Harus Dipantau Sebelum Menilai Ini Peluang atau Jebakan

Satu fakta yang tidak boleh dilewatkan, saham Waskita masih disuspensi sejak Mei 2023 dan belum kembali diperdagangkan. Artinya, sebelum bicara peluang atau jebakan di pasar, syarat paling dasar yang harus dipenuhi adalah pencabutan suspensi itu sendiri, yang bergantung pada penyelesaian kewajiban obligasi yang gagal dibayar.

Bagi yang sudah memegang eksposur ke Waskita lewat obligasi atau instrumen terkait, variabel yang harus dipantau adalah progres skema pembiayaan Himbara dan apakah restrukturisasi utang benar-benar rampung, bukan sekadar janji arah bisnis baru. Bagi yang baru mengamati dari luar, sinyal masuknya bukan pengumuman visi jadi operator tol kedua, melainkan kapan suspensi dicabut dan bagaimana neraca kuartal berikutnya bergerak. Jika restrukturisasi tuntas dan suspensi dicabut dengan neraca yang membaik, arah baru ini menjadi entry point yang sah. Jika rugi terus membengkak tanpa kejelasan skema pembiayaan, ambisi jadi tol kedua tinggal jadi narasi tanpa fondasi.

Link copied