WIFI Cetak Laba 118%|Margin Justru Menciut
Laba Meledak, Tapi Marginnya Menciut
PT Solusi Sinergi Digital atau WIFI membukukan pendapatan Rp1,57 triliun pada semester pertama 2026, melonjak 206% dibanding tahun lalu. Laba bersih perseroan naik 118% menjadi Rp496,8 miliar. Bisnis telekomunikasi, bukan lagi iklan luar ruang, kini menjadi mesin utama pendapatan WIFI.
Segmen telekomunikasi menyumbang Rp1,28 triliun atau sekitar 82% dari total pendapatan, tumbuh 357% secara tahunan. Jumlah pelanggan HomeConnect FTTH mencapai 1,85 juta, tumbuh 377% dalam setahun, sementara layanan FWA yang baru diluncurkan Februari sudah punya lebih dari 500 ribu pelanggan. Direktur WIFI, Shannedy Ong, menyebut semester ini sebagai titik balik dari fase membangun jaringan ke fase memonetisasi aset yang sudah dibangun.
Namun di balik lonjakan laba itu, margin EBITDA WIFI justru turun dibanding tahun lalu, meski masih bertahan di atas 60%. Manajemen menyebut penurunan margin ini sebagai konsekuensi dari makin besarnya kontribusi layanan telekomunikasi ritel, yang marginnya lebih tipis tapi pendapatannya lebih berulang. Ini bukan tanda bisnis melemah, tapi tanda bauran pendapatan WIFI sedang bergeser dari proyek sekali jalan ke langganan bulanan.
Ekspansi Dibiayai Obligasi Yen Jepang
Beberapa hari sebelum rilis laporan keuangan, anak usaha WIFI yaitu PT Integrasi Jaringan Ekosistem menerbitkan obligasi berdenominasi yen Jepang senilai total JPY21,4 miliar, setara Rp2,4 triliun. Obligasi ini mendapat peringkat BBB+ dari Japan Credit Rating Agency. Dana ini disiapkan untuk memperluas jaringan fiber to the home dan membiayai kembali utang yang ada.
Menariknya, posisi kas dan setara kas WIFI justru mencapai Rp8,29 triliun, jauh melampaui utang bersihnya yang tercatat Rp1,77 triliun, atau sekitar 0,9 kali EBITDA tahunan. Artinya, penerbitan obligasi baru ini bukan tanda WIFI kesulitan modal kerja, melainkan strategi mengunci pendanaan jangka panjang berbunga tetap saat perusahaan sedang berada di fase ekspansi paling intensif dalam sejarahnya. Belanja modal hingga semester satu saja sudah mencapai Rp1,18 triliun.
Kombinasi kas besar dan penerbitan obligasi baru ini mengubah bacaan awal investor. Yang terlihat seperti perusahaan mencari dana darurat, sebenarnya adalah perusahaan yang sengaja mengunci biaya modal murah sebelum kompetisi infrastruktur digital semakin ketat. Saham WIFI sendiri sempat melonjak 25,62% dalam sebulan terakhir sebelum laporan keuangan ini terbit, menunjukkan pasar sudah mengendus arah pertumbuhan ini lebih dulu.
Bayang-Bayang Nama Besar di Baliknya
WIFI adalah emiten milik Hashim Djojohadikusumo, adik dari Presiden Prabowo Subianto. Posisi ini membuat setiap langkah korporasi WIFI, termasuk penerbitan obligasi luar negeri dan ekspansi agresifnya, mendapat sorotan lebih dari sekadar aksi korporasi biasa emiten telekomunikasi kecil-menengah.
Manajemen menegaskan strategi semester kedua bukan lagi membangun jaringan baru secara masif, melainkan menaikkan tingkat pemakaian dari infrastruktur yang sudah dibangun, menaikkan pendapatan rata-rata per pelanggan lewat migrasi ke paket berkecepatan lebih tinggi, serta merapikan efisiensi operasional layanan FWA. Ini pertanda perusahaan mulai bertaruh pada eksekusi monetisasi, bukan lagi pada kecepatan membangun jaringan.
Bagi investor yang belum memegang WIFI, angka pertumbuhan pelanggan dan laba ini adalah alasan konkret untuk mulai memperhatikan saham ini lebih serius. Namun bagi yang sudah memegang, pertanyaan sesungguhnya bukan lagi soal kecepatan pertumbuhan, melainkan soal daya tahan margin di tengah pergeseran ke bisnis ritel bermargin tipis. Checkpoint berikutnya ada di laporan keuangan semester kedua 2026, saat pasar akan menguji apakah strategi menaikkan average revenue per user benar-benar mengimbangi tekanan margin yang sudah mulai terlihat hari ini.