WIFI Starlite 2 Gbps Rp250 Ribu|Saham 10% Tapi Coverage Masih Bertahap

· IHSG

Internet 2 Gbps Rp250 Ribu: Saham WIFI Melesat +10%

Saham PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) melesat +10,27 persen ke level 2.040 pada perdagangan Kamis 16 Juli 2026, memimpin penguatan LQ45 sehari setelah perseroan meluncurkan Starlite Super — layanan internet fixed broadband pertama di Indonesia berbasis teknologi Wi-Fi 7 dengan kecepatan hingga 2.000 Mbps seharga Rp250.000 per bulan. Angka itu bukan salah ketik: dua gigabit per detik dengan harga lebih murah dari sebagian besar paket internet rumah biasa yang ada di pasaran saat ini.

Untuk memahami mengapa pasar bereaksi sekuat ini, perlu dibandingkan dengan konteks industri. Rata-rata harga fixed broadband tingkat pemula di Indonesia mencapai sekitar 4,8 persen dari GNI per kapita bulanan — angka yang ditetapkan World Bank. SURGE menghadirkan Starlite Super di level 1,4 persen GNI per kapita, berada di bawah ambang keterjangkauan 2 persen yang ditetapkan UN Broadband Commission. Ini bukan sekadar diskon promosi; ini adalah pernyataan posisi harga yang memangkas standar industri hampir tiga kali lipat.

Namun di sinilah tegangan sesungguhnya dimulai. Penetrasi fixed broadband Indonesia pada 2025 baru mencakup sekitar 21 persen rumah tangga — jauh dari target RPJMN 2025–2029 yang menetapkan angka 50 persen. Pasar yang belum terlayani itu memang besar, tetapi pertanyaan yang belum terjawab adalah apakah harga yang sangat rendah ini merupakan keunggulan kompetitif yang sesungguhnya, atau justru mencerminkan margin tipis yang membatasi kemampuan SURGE untuk mendanai ekspansi jaringan ke seluruh wilayah yang dibutuhkan.

Infrastruktur di Balik Klaim: NTT East, 8.000 Km Serat Optik, dan Batas Coverage

Klaim Starlite Super bukan berdiri di atas angin. SURGE membangun infrastruktur di atas jaringan backbone serat optik lebih dari 8.000 kilometer yang membentang di koridor perkeretaapian nasional, dikembangkan bersama NTT East dari Jepang. NTT eASIA memegang saham 49 persen di WEAVE — anak usaha SURGE yang membangun dan mengoperasikan jaringan FTTH Starlite. Ini bukan sekadar mitra distribusi; NTT East membawa keahlian jaringan fiber kelas dunia langsung ke struktur kepemilikan.

Di sisi teknologi, Huawei menjadi mitra penyedia solusi XGS-PON dan Wi-Fi 7 secara menyeluruh untuk layanan Starlite Super. Pengakuan internasional datang bersamaan: pada 14 Juli 2026 di Broadband Development Summit APAC di Bangkok, SURGE menerima penghargaan WBBA Gigacity Champion atas model fixed broadband terjangkau yang dinilai mendukung perluasan akses digital. Dua hari kemudian layanan diluncurkan secara komersial — sekuens yang menunjukkan koordinasi narasi yang rapi antara pengakuan global dan eksekusi pasar.

Namun ada celah kritis yang tersembunyi di balik angka-angka yang imponant itu. Jaringan backbone 8.000 kilometer di koridor kereta api adalah infrastruktur penghubung antar kota — bukan jaringan last-mile ke rumah-rumah pelanggan. Coverage FTTH Starlite, yang menentukan di mana Starlite Super benar-benar bisa dipasang, masih dikembangkan secara bertahap dan pengumuman wilayah baru dilakukan berkala. Hari ini, calon pelanggan harus mengecek dulu apakah alamat mereka sudah terjangkau — dan banyak yang belum. Infrastruktur tulang punggung bukan jaminan jangkauan rumah.

Paradoks Harga: "Merakyat" yang Mempertanyakan Model Bisnis

Di sinilah asumsi tersembunyi yang mendorong kenaikan saham hari ini perlu dipertanyakan. Narasi pasar memposisikan harga Rp250.000 per bulan untuk 2 Gbps sebagai senjata kompetitif — cara SURGE merebut pelanggan dari ISP incumbent yang mematok harga jauh lebih tinggi. Namun logika yang sama berlaku terbalik: jika revenue per pelanggan sangat rendah, dari mana dana untuk membangun jaringan FTTH ke jutaan rumah tangga yang belum terjangkau itu akan datang?

SURGE sebenarnya telah menawarkan produk yang lebih murah sebelumnya — IRA Internet Rakyat berbasis 5G FWA 1,4 GHz seharga Rp100.000 per bulan untuk kecepatan hingga 100 Mbps. Ini berarti portofolio SURGE mencakup tiga tingkat harga: Rp100rb, Rp168rb, hingga Rp250rb. Skala harga ini mencerminkan strategi penetrasi massal, bukan strategi margin premium. Pertanyaannya menjadi semakin tajam: apakah model bisnis dengan revenue per pelanggan yang rendah dapat membiayai perluasan jaringan fiber optik yang secara fisik sangat mahal dan memakan waktu bertahun-tahun?

Di sinilah struktur kepemilikan menjadi variabel penting yang belum banyak dibahas pasar. NTT eASIA memegang 49 persen di WEAVE — anak usaha yang menanggung beban pembangunan jaringan FTTH. Artinya, sebagian besar belanja modal infrastruktur ditanggung bersama dengan mitra Jepang, bukan sepenuhnya dari neraca SURGE. Ini meringankan beban finansial ekspansi, tetapi juga berarti pertumbuhan SURGE tidak sepenuhnya mandiri — kecepatan rollout bergantung pada prioritas dan komitmen NTT East. Pasar hari ini memberikan penghargaan seolah-olah coverage sudah nasional, padahal yang ada baru koridor awal.

Peta Keputusan: Kapan Kenaikan Ini Terbukti, Kapan Ini Jebakan

Untuk pemegang saham WIFI yang sudah masuk sebelum kenaikan hari ini, pertanyaan mendesak adalah apakah hold masih layak atau +10% sudah cukup untuk trimming sebagian. Tesis masih kuat jika SURGE segera mengumumkan perluasan coverage FTTH ke kota-kota baru dalam beberapa pekan ke depan, dan jika data subscriber awal — yang seharusnya mulai tersedia di laporan keuangan Q3 2026 — menunjukkan traction nyata di area yang sudah dilayani. Pengumuman wilayah baru yang konkret adalah sinyal konfirmasi paling awal yang bisa dicek.

Bagi yang belum masuk dan mempertimbangkan entry setelah kenaikan dua digit, variabel yang menentukan bukan lagi produknya — produknya sudah diluncurkan dan diakui dunia — melainkan kecepatan eksekusi perluasan jaringan. Jika dalam satu hingga dua kuartal ke depan coverage FTTH Starlite terbukti meluas signifikan dan subscriber bertumbuh, kenaikan hari ini adalah pembukaan, bukan puncak. Sebaliknya, jika rollout tetap lambat dan terbatas pada koridor-koridor awal sementara biaya capex terus berjalan, harga Rp250rb per bulan berpotensi menjadi beban margin, bukan keunggulan. Checkpoint paling awal: pengumuman area baru Starlite dalam waktu dekat, sebelum angka subscriber Q3 2026 rilis.

Link copied